PENDAHULUAN
Mikologi kedokteran adalah ilmu yang mempelajari tentang jamur yang dapat menyebabkan penyakit pada manusia.
Jamur termasuk tumbuh-tumbuhan filum talofita yang tidak mempunyai akar, batang dan daun. Jamur tidak bisa menghisap makanan dari tanah dan tidak mempunyai klorofil sehingga tidak bisa mencerna makanan sendiri oleh karenanya hidup sebagai parasit atau saprofit pada organisme yang lain.
Sampai saat ini dikenal kurang lebih 200.000 spesies jamur, tetapi hanya 50 spesies yang patogen pada manusia, yaitu:
• 20 Spesies menyerang kulit
• 12 Spesies menyerang subkutis
• 18 menyerang alat dalam atau sistemik
Elemen yang terkecil dari jamur disebut hifa, yaitu berupa benang-benang filament yang terdiri dari sel-sel yang mempunyai dinding, protoplasma,inti, dan biasanya mempunyai sekat. Hifa yang tidak mempunyai sekat disebut hifa sunosistik. Benang- benang hifa ini bercabang-cabang dan bila membentuk anyaman disebut miselium.
Hifa berkembang biak atau tumbuh menurut arah panjangnya dengan membentuk spora. Spora adalah suatu alat reproduksi yang bisa dibentuk dalam hifa sendiri atau alat-alat khusus dari jamur sebagai alat reproduksi.
Hifa umumnya mempunyai sekat, tetapi ada kalanya dari satu spora, dapat terbentuk suatu hifa semu dibentuk dari sel ragi. Pada salah satu sisinya membentuk tonjolan yang lebih besar sehingga tampak menyerupai hifa dan tidak mempunyai sekat. Anyaman dari hifa ini disebut miselium semu.
BAB I
INFEKSI KULIT OLEH JAMUR
A. Pengertian kandidiasis
Kandidiasis adalah suatu infeksi akut atau subakut yang disebabkan oleh candida albicans atau kadang-kadang oleh spesies kandida yang lain, yang dapat menyerang berbagai jaringan tubuh ( Siregar,R.S 2005 : 44 ).
Kandidiasis adalah suatu penyakit kulit akut atau subakut,disebabkan jamur intermediet yang menyerang kulit, kuku, selaput lendir, alat-alat dalam (Harahap, Marwali 2000 : 81 ).
B. Etiologi
Penyebab utama kandidiasis adalah candida albicans. Spesies lain seperti candida krusei, Candida stellatoidea, candida tropicalis, candida pseudotropicalis, dan candida parapsilosis, umumnya bersifat apatogen.
C. Faktor Predisposisi
Banyak faktor yang mempermudah terjadinya infeksi kandida pada seseorang. Pada dasarnya factor predisposisi ini di golongkan menjadi 2 kelompok, yaitu
1. Faktor endogen
1) Perubahan fisiologis tubuh, yang terjadi pada:
• Kehamilan, terjadi perubahan di dalam vagina.
• Obesitas, kegemukan menyebabkan banyak keringat, mudah terjadi maresasi kulit, dan memudahkan infestasi kandida.
• Endokrinopati, gangguan konsentrasi gula dalam darah, yang pada kulit akan menyuburkan pertumbuhan kandida.
• Penyakit menahun, seperti tuberkolosis, lupus eritematosus, karsinoma dan leukemia.
• Pengaruh pemberiaan obat-obatan, seperti antibiotik, kortikostreoid, atau sitostatik.
• Pemakaian alat-alat dalam tubuh, seperti gigi palsu, infus, dan kateter.
2) Umur
Orang tua dan bayi lebih mudah terkena infeksi karena status imunologisnya tidak sempurna.
3) Gangguan imunologis
Pada penyakit genetik seperti atopik dermatitis, infeksi kandida mudah terjadi.
2. Faktor eksogen
1) Iklim panas dan kelembaban banyak keringat terutama pada lipatan paha , menyebabkan kulit maresasi dan ini mempermudah invasi kandida.
2) Kebiasan dan pekerjaan yang berhubungaan dengan air mempermudah invasi kandida.
3) Kebersihan dan kontak dengan penderita. Pada penderita yang sudah terkena infeksi ( kandidiais di mulut ) dapat menularkan infeksi pada pasangannya melalui ciuman.
D. Cara Infeksi
Infeksi kandida dapat berlangsung secara endogen dan eksogen atau berkontak langsung. Infeksi endogen lebih sering terjadi karena kandida ini memang bersifat saprofit di dalam taktus digetivus. Bila ada faktor predisposisi, kandida ini dapat lebih mudah mengadakan infeksi di sekitar mukokutan,anus; dapat menyebabkan perianal kandidiasis,atau di sudut mulut menyebabakan perional kandidiasis. Pecandu narkotik dapat menderita kandidiasis karena menggunakan alat suntik yang tidak steril sehingga memperoleh kandidiasis sistemik.
Infeksi eksogen atau berkontak langsung dapat terjadi bila sel-sel ragi menempel pada kulit atau selaput lendir sehingga menimblkan kelainan- kelainan pada kulit tersebut, misalnya vaginitis, balanitis, atau kandidiasis interdigitalis.
E. Klasifikasi dan gambaran klinis
Berbagai jenis kandidiasis mempunyai ciri khas yang bergantung pada alat-alat yang terkena.
Conant ( 1971 ) membagi kandidiasis sebagai berikut:
1. Kandidiasis selaput lendir, misalnya:
1) Kandidiasis oral
2) Perlece
3) Kandidiasis vaginitis dan vulvovaginitis
4) Kandidiasis balanitis dan balanoptisis
5) Kandidiasis mukokutan kronis
2. Kandidiasis kutis
1) Lokalisats: intertigosa dan daerah perianal
2) Generalisata
3) Paronikia dan onikomikosis
4) Kandidiasis kutis granulomatosa
3. kandidiasis sistemik(tidak dibicarakan)
1) Endokarditis
2) Meningitis
3) Pielonefritis
4) Septicemia
4. Reaksi id
F. Anatomi Fisiologis
G. Patofisiologis
Candida albicans, jamur seperti ragi biasanya dapat ditemukan pada selaputlendir, kulit,dalam saluran pencernaan, dan dalam vagina. Candida albicans, dalam keadaan tertentu dapat berubah sifat dari komensal menjadi pathogen dan menyebabkan penyakit-penyakit mucocutaneus lokal.
H. Tanda dan gejala
1. Gejala subyektif
Pada paronychia kronis daerah di sekitar kuku ketika di tekan sakit, dan onychia yang ada hubungan denganya akan merupakan gangguan dari segi kosmetika dan pekerjaan. Candida intertigo,perleche, dan vulvovaginitis sering terasa gatal-gatal dan kadang-kadang menimbulkan rasa tidak enak. Lesi-lesi dari sariawan (thrush) bias terasa sakit dan fungsi makan bisa terganggu.
2. Gejala Obyektif
1) Lesi-lesi paronchia
Menunjukkan lipatan kulit pada pangkal kuku membulat dan menonjol dan erythema & bengkak pad ujung jari (biasanya tanpa pernanahan yang jelas). Sering kuku menjadi berlengkuk-lengkuk dan bernoda warna hijau atau coklat.
2) Lesi lesi intertigo
(Inframamae, ketiak, lipat paha, perianal, antara jara-jari) basah dan merah, kadang-kadamg terjadi macerasi pada lipatan . Tepi yang jelas serta mengelupas, dikelilingi oleh serentetan papula atau pustule kemerahan merupakan sifat khas dari candida.
3) Sariawan (thurs)
Nampak seperti plaque putih melekat tak begitu erat pada selaput lendir mulut atau vagina. Selaput lendir pada dasar lesi berwarna merah dan basah. Lesi-lesi mulai sebagai titik-titik noktah dan bisa meluas sampai sudut-sudut mulut atau kedalam kerongkongan.
4) Perleche
Nampak sebagai daerah erythematosa dengan retak-retak dan fisura yang basah pada sudut mulut.
5) Lesi-lesi vulvovaginalis
Seringkali, tetapi tidak selalu disertai dengan keluarnya discharge vagina. Tingkat erythema dan edema pada vulva akan tergantung pada beratnya gejala-gejala candidiasis vulvae primer tampak serupa dengan infeksi-infeksiintertigo dari candida.
I. Pemeriksaan penunjang
1. Pemeriksaan langsung
kerokan kulit atau swab mukokutan ditetesi dengan KOH 10% atau dapat di warnai dengan pewarnaan gram, dan selanjutnya dilihat di bawah mikroskop yang dapat di lihat adalah sel-sel ragi,blastospora, dan hifa semu.
2. Pemeriksaan biakan
Bahan yang akan di periksa dapat di ambil dari kerokan kulit, kuku, dahak, sekret bronkus, air seni, tinja, usapan mukokutan, usap vagina da darah tergantung dari kelainan yang ada.
3. Pemeriksaan histopatologi
Pada pemeriksaan dengan pengecatan hematoksilin eosin (HE) di dalam sediaan akan dapat terlihat sel0sel reaksi radangberupa sel-sel netrofil, sarang-sarang abses kecil, sel datia yang dikelilingi oleh sel histiosit. Sel-sel ragi tampak berupa blastospora dan dapat juga di temukan hifa semu.
4. Uji kulit
Uji kulit dapat di lakukan dengan bahan yang di buat dari ekstrak biakan kandida. Hasil positif tidak selalu berarti ada infeksi kandida. Jamur yang ada di dalam tubugh berupa saprofit dapat pula memberi hasil yang positif. Penilaian ui kulit harus di hubungkan dengan kelainan yang ada.
Kamis, 10 Desember 2009
evaluasi
KELOMPOK :
• Wiwi mustofa
• Unggul arif s.
• Wulan sari
• Siti muhayaroh
TUJUAN
Tahap evaluasi adalah perbandingan hasil – hasil yang diamati dengan kriteria hasil yang dibuat pada tahap perencanaan. Klien keluar dari siklus proses keperawatan apabila kriteria hasil telah dicapai. Klien akan masuk kembali kedalam siklus apabila kriteria hasil belum tercapai.
KLIEN MASUK
PENGKAJIAN
KLIEN MASUK KEMBALI DIAGNOSA
KLIEN KELUAR
EVALUASI PERENCANAAN
IMPLEMENTASI
KOMPONEN TAHAP EVALUASI
1. Pencapaian kriteria hasil
2. Keefektifan tahap – tahap proses keperawatan
3. Revisi atau terminasi rencana asuhan keperawatan
Perencanaan tersebut dapat ditulis dalam berbagai format,termasuk hal – hal berikut :
• Tulisan tangan , rencana asuhan keperawatan yang di buat secara individu.
• Rencana perawatan standar yang disesuaikan dengan kebutuhan pasien.
• Alur klinis , yang merinci rencana perawatan multi disiplin dan mencakup hasil.
• Pedoman praktik yang memandu perawatan pada pasien.
HASIL YANG DIDOKUMENTASIKAN
Hasil dapat diukur pada tingkat dan tujuan yang berbeda. Beberapan hal yang semakin mempersulit pengukuran hasil , antara lain adalah kurangnya hal – hal berikut :
• Persetujuan mengenai rangkaian unsur umum yang digunakan untuk membuat data dasar guna pengukuran hasil.
• Persetujuan tentang penetapan hasil yang tepat.
• Dokumentasi yang sistematis berkaitan dengan pencapaian hasil.
• Komunikasi antar lembaga (msl : antara fasilitas rumah perawatan dan fasilitas rumah perawatan akut).yang tidak memungkinkan dilakukannya pengukuran hasil jangka panjang.
Contoh beberapa tindakan yang dapat dipengaruhi oleh asuhan keperawatan meliputi hal – hal berikut :
• Perioperatif ( komplikasi dalam 2 hari pasca operasi ) defisit sistem saraf pusat , deficit neurologi perifer , infark miokard akut , henti jantung , kematian.
• Obstetric , persalinan seksio sesaria , persalinan pervagina setelah sebelumnya mengalami seksio sesaria.
• Kardiovaskular ,infark miokard akut di unit gawat darurat (UGD) : waktu untuk terapi profilaktik , lama rawat pasca operasi untuk pasien yang mengalami pintas arteri koronaria atau pintas arteri koronaria transluminal perkutan.Kematian setelah CABG,PTCA,atau MI.
• Onkologi , kanker payudara wanita : hasil analisis reseptor estrogen dicatat dalam rekam medis.
• Trauma , tanda – tanda vital di UGD , scor Glasgow coma scale ( GCS ) di UGD waktu pemeriksaan CT scan kepala ,prosedur bedah saraf prosedur ortopedik,dan prosedur abdominal.
• Penggunaan obat , waktu pemberian anti biotic profilaktik untuk kelompok prosedur bedah terpilih , demonstrasi pemantauan sendiri kadar gula darah dan pemberian sendiri hormon insulin, pengukuran kadar obat dalam darah,terutama digoksin,teofilin,fenitoin,dan litium.
• Pengendalian infeksi , infeksi area bedah pada prosedur bedah terpilih,pneumonia pada pasien dengan ventilator , infeksi aliran darah primer pada pasien yang memakai jalur sentral atau jalur umbikulus.
EVALUASI HASIL
Evaluasi dikategorikan sebagai formatif atau sumatif. Evaluasi formatif terjadi secara periodic selama pemberian perawatan , sedangkan evaluasi sumatif terjadi pada akhir aktivitas , seperti di akhir penerimaan , pemulangan atau pemindahan ke tempat lai9n , atau di akhir kerangka waktu tertentu, seperti diakhir sesi penyuluhan.
EVALUASI FORMATIF
Frekuensi perawat mengevaluasi perkembangan pasien tergantung pada factor –factor berikut : kebijakan,standar peraturan,lingkungan palayanan kesehatan,system pencatatan , standar perawatan /pedoman praktik, diagnosis atau masalah keperawatan ,kerangka waktu yang dispesifikan dengan hasil ,dan intervensi keperawatan.
KEBIJAKAN
Kebijakan lembaga palayanan kesehatan mengatur frekuensi perawat dalam mendokumentasikan evaluasi perkembangan pasien . Kebijakan ini dapat ditetapkan dengan berbagai cara .Suatu lembaga dapat mempunyai kebijakan dokumentasi umum yang mengatur frekuensi evaluasi (msl . kebijakan yang mengharuskan rencana keperawatan dievaluasi setiap jam, setiap hari dan setiap minggu).
STANDAR PERATURAN
Standar peraturan lembaga juga dapat digunakan untuk mengatur kerangka waktu evaluasi . Sebagai contoh , joint commission mengharuskan lembaga pelayanan kesehatan agar menetapkan waktu untuk mengkaji ulang pasien dan mengevaluasi kemampuan pasien atau orang tertentu dalam melakukan aktivitas perawatan diri .
SISTEM DAN FORMAT PENCATATAN
System pencatatan yang digunakan oleh fasilitas menetapkan frekuensi perawat harus mendokumentasikan evaluasi. Sebagai contoh : seperti yang didiskusikan pada bab 7, pencatatan masalah intervensi dan evaluasi menganjurkan bahwa hasil harus dievaluasi setiap 8 jam dan diringkas sekali setiap 24 jam.
Format rekam medis juga mengatur frekuensi pencatatan hasil . Sebagai contoh : lavin dan enright(1996) menggambarkan lembar alur yang digunakan di unit rawat inap pasien ketergantungan obat. Lembar bolak-balik terdiri dari 3 kolom dan tiap halaman digunakan perjam dinas. Kolom sebelah kiri mencantumkan gejala-gejala khas yang dialami oleh pasien yang sedang menjalani detoksifikasi obat obatan atau alcohol . Kolom tengah terdapat ruang untuk mencatat intervensi keperawatan yang digunakan untuk mengobati gejala-gejala tersebut .Intervensi standar dicetak ulang pada format tersebut .Kolom paling kanan digunakan untuk mencatat respon atau hasil pasien . Masalah yang masih ada atau informasi tambahan didokumentasikan pada catatan perkembangan.
STANDAR PERAWATAN DAN PEDOMAN PRAKTIK
Standar perawatan dan pedoman praktik menjelaskan frekuensi untuk mengevaluasi hasil.Sebagai contoh , pedoman praktik untuk pengobatan gangguan integritas kulit menganjurkan perawat untuk mengevaluasi dan mendokumentasikan kondisi kulit pasien setiap 8 jam.
MASALAH ATAU DIAGNOSIS KEPERAWATAN
Jenis masalah atau diagnosis keperawatan dapat mempengaruhi frekuensi evaluasi .Pada saat menetapkan diagnosis keperawatan pasien ,seperti yang didiskusikan pada bab 3 pearawat mengidentifikasi masalah yang paling penting.Respon yang sangat mempengaruhi kesejahteraan pasien mendapat prioritas paling tinggi. Kebutuhan fisiologis dasar pasien ,termasuk kebutuhan makanan ,udara ,eliminasi,dan sirkulasi biasanya menjadi kebutuhan yang paling mendesak. Kebutuhan – kebutuhan ini umumnya harus diatasi sebelum berfokus pada kebutuhan psikososial.Frekuensi evaluasi akan bervariasi sesuai dengan perubahan kondisi pasien ,selanjutnya dibuat diagnosis keperawatan baru.
KERANGKA WAKTU
Seperti yang telah didiskusikan pada bab 3 ,kerangka waktu menginformasikan pada perawat kapan saatnya mengevaluasi hasil . Hal-hal yang tercantum dalam kerangka waktu,seperti”dalam 24 jam”.”pada saat pemulangan”,atau”pada saat sesi penyuluhan ketiga,”merupakan panduan yang sangat berguna bagi perawat yang akan mengevaluasi hasil. Kerangka waktu juga di jelaskan pada alur kritis.
INTERVENSI KEPERAWATAN
Intervensi keperawatan dapat menjelaskan seberapa sering setatus pasien harus dipantau atau dilakukan tindakan keperawatan lainya. Misalnya ,intervensi keperawatan mengtauskultasi bunyi napas setiap jam dinas mengindikasikan bahwa rekam medis harus berisi tentang penjelasan bunyi napas. Intervensi yang jelas dan spesifik,mempermudah pendokumentasian dengan menjelaskan tindakan keperawatan yang diharapkan.
EVALUASI SUMATIF
Evaluasi sumatif biasanya dilakukan pada saat pemindahan atau pemulangan pasien. Berpikir kritis dan penilaian klinis harus digunakan jika status pasien tidak sesuai dengan rencana pemulangan.
FORMAT PEMINDAHAN
Standar joint commission (1996) menyatakan rumah sakit harus menyatakan bahwa asuhan keperawatan pasien dan informasi klinis yang tepat harus di tukar pada saat pasien masuk ,dirujuk ,dipindahkan, atau dipulangkan . Satu metode umum untuk memastikan bahwa pertukaran informasi ini terjadi adalah dengan menggunakan format pemindahan dan format pemulangan . Format pemindahan digunakan untuk mengkomunikasikan informasi penting tentang status pasien pada saat pasien dipindahkan di fasilitas yang sama ,antara dua fasilitas atau antara rumah pasien dengan institusi.
FORMAT PEMULANGAN
Kebutuhan pasien harus di evaluasi ketika Ia pulang dari fasilitas perawatan kesehatan. Kebutuhan ini akan mengarahkan pemberian perawatan yang berkelanjutan. Jenis format pemulangan yang berbeda antara lain adalah lembar ringkasan pemulangan dan lembar instruksi pemulangan .
Ringkasan pemulangan . Ringkasan dipakai dipakai di beberapa fasilitas dan digunakan untuk mendokumentasikan penyelesaian proses pemulangan , untuk memastikan bahwa semua langkah yang tepat telah selesai dilakukan.
Lembar instruksi pemulangan . Lembar instruksi pemulangan berisi daftar instruksi-instruksi pemulangan untuk diet,pengobatan ,obat-obatan,aktivitas,dan pemeriksaan tindak lanjut .
CARA PENDOKUMENTASIAN HASIL
Berikut ini adalah beberapa konsep yang biasanya terdapat pada catatan perkembangan , termasuk contoh keterangan evaluative :
• Perkembangan kearah pencapaian hasil
• Respon terhadap obat-obatan
• Respon perubahan aktivitas
• Toleransi terhadap pengobatan atau perubahan posisi
• Kemampuan melakukan aktivitas hidup sehari-hari,terutama yang mempengaruhi rencana pemulangan
• Respon terhadap diet atau perubahan diet
DOKUMENTASI PENYULUHAN PASIEN
Tujuan dari penyuluhan difokuskan pada perbaikan kesehatan melalui peningkatan perilaku sehat dan terlibatnya petugas kesehatan dalam membuat keputusan. Faktor yang terbukti efektif dalam meningkatkan pendokumentasian penyuluhan pasien adalah sebagai berikut :
• Buat kegiatan penyuluhan pasien sebagai bagian dari deskripsi kerja perawat
• Masukan kegiatan penyuluhan penyuluhan pasien sebagai factor yang mempengaruhi peningkatan jasa dan jabatan
• Perkuat kegiatan penyuluhan pasien melalui aktivitas perbaikan mutu
• Masukan kegiatan penyuluhan pasien sebagai bagian dari standar praktik
• Perkuat kegiatan penyuluhan pasien melalui perhatian administrative terhadap pendokumentasian
• Perbaiki format pendokumentasian untuk memberi penekanan pada penyuluhan
• Fokuskan pengembangan dan pendidikan staf pada penyuluhan pasien
Pada akhir penyuluhan tergantung dari informasi yang diberikan perawat harus mampu mendokumentasikan hal-hal berikut :
• Peningkatan pengetahuan pasien dalam pemberian obat ,penggunaan alat-alat medis,interaksi obat dengan makanan ,nutrisi ,sumber-sumber yang ada pada komunitas,dan gejala-gejala yang harus dilaporkan pada pemberi pelayanan kesehatan .
• Peningkatan kemampuan pasien ,keluarga ,atau keduanya untuk melakukan ketrampilan keperawatan diri dan penggunaan teknik-teknik rehabilitasi nuntuk meningkatkan tingkiat fungsi pasien.
• Respon pasien terhadap informasi yang diberikan.
METODE EVALUASI KEBERHASILAN PENYULUHAN PASIEN
• Demonstrasi ulang merupakan cara yang paling bermanfaat dalam mengevaluasi ketrampilan psikomotor
• Tes tertulis merupakan alat obyektif yang digunakan untuk mengukur pengetahuan
• Catatan harian yang dibuat oleh pasien untuk mencatat data-data
• Diskusi yaitu meminta pasien untuk mengingat kembali apa yang telah diajarkan kepadanya ,yang memungkinkan perawat untuk mengoreksi kesalahan konsep yang terjadi pada pasien dan mengevaluasi ingatan pasien.
• Observasi perilaku verbal dan nonverbal ,bermain peran ,dan sikap yang diekspresikan melalui perilaku yang dapat dijadikan petunjuk untuk pembelajaran
• Kuesioner digunakan untuk mengevaluasi perubahan sikap pasien
• Penyelesaian masalah dan simulasi ,yaitu melibatkan pasien dalam situasi teoritis dan memintanya untuk menggambarkan cara menangani situasi tersebut .
PENGKAJIAN ULANG
Pengkajian ulang merupakan pemantauan status pasien yang konstan yang meihat respon pasien terhadap interventasi keperawatan dan kemajuan kearah pencapaian hasil yang diharapkan.Evaluasi data menentukan :
• Ketepatan tindakan keperawatan
• Kebutuhan untuk merevisi intervensi
• Perkembangan masalah atau kebutuhan pasien yang baru
• Kebutuhan untuk rujukan ke sumber-sumber lain
• Kebutuhan untuk menyusun kembali prioritas untuk memenuhi kebutuhan perawatan yang berubah
Hal-hal yang diharapkan dapat dievaluasi dengan :
• Observasi langsung
• Wawancara dengan pasien
• Peninjauan catatan
• Wiwi mustofa
• Unggul arif s.
• Wulan sari
• Siti muhayaroh
TUJUAN
Tahap evaluasi adalah perbandingan hasil – hasil yang diamati dengan kriteria hasil yang dibuat pada tahap perencanaan. Klien keluar dari siklus proses keperawatan apabila kriteria hasil telah dicapai. Klien akan masuk kembali kedalam siklus apabila kriteria hasil belum tercapai.
KLIEN MASUK
PENGKAJIAN
KLIEN MASUK KEMBALI DIAGNOSA
KLIEN KELUAR
EVALUASI PERENCANAAN
IMPLEMENTASI
KOMPONEN TAHAP EVALUASI
1. Pencapaian kriteria hasil
2. Keefektifan tahap – tahap proses keperawatan
3. Revisi atau terminasi rencana asuhan keperawatan
Perencanaan tersebut dapat ditulis dalam berbagai format,termasuk hal – hal berikut :
• Tulisan tangan , rencana asuhan keperawatan yang di buat secara individu.
• Rencana perawatan standar yang disesuaikan dengan kebutuhan pasien.
• Alur klinis , yang merinci rencana perawatan multi disiplin dan mencakup hasil.
• Pedoman praktik yang memandu perawatan pada pasien.
HASIL YANG DIDOKUMENTASIKAN
Hasil dapat diukur pada tingkat dan tujuan yang berbeda. Beberapan hal yang semakin mempersulit pengukuran hasil , antara lain adalah kurangnya hal – hal berikut :
• Persetujuan mengenai rangkaian unsur umum yang digunakan untuk membuat data dasar guna pengukuran hasil.
• Persetujuan tentang penetapan hasil yang tepat.
• Dokumentasi yang sistematis berkaitan dengan pencapaian hasil.
• Komunikasi antar lembaga (msl : antara fasilitas rumah perawatan dan fasilitas rumah perawatan akut).yang tidak memungkinkan dilakukannya pengukuran hasil jangka panjang.
Contoh beberapa tindakan yang dapat dipengaruhi oleh asuhan keperawatan meliputi hal – hal berikut :
• Perioperatif ( komplikasi dalam 2 hari pasca operasi ) defisit sistem saraf pusat , deficit neurologi perifer , infark miokard akut , henti jantung , kematian.
• Obstetric , persalinan seksio sesaria , persalinan pervagina setelah sebelumnya mengalami seksio sesaria.
• Kardiovaskular ,infark miokard akut di unit gawat darurat (UGD) : waktu untuk terapi profilaktik , lama rawat pasca operasi untuk pasien yang mengalami pintas arteri koronaria atau pintas arteri koronaria transluminal perkutan.Kematian setelah CABG,PTCA,atau MI.
• Onkologi , kanker payudara wanita : hasil analisis reseptor estrogen dicatat dalam rekam medis.
• Trauma , tanda – tanda vital di UGD , scor Glasgow coma scale ( GCS ) di UGD waktu pemeriksaan CT scan kepala ,prosedur bedah saraf prosedur ortopedik,dan prosedur abdominal.
• Penggunaan obat , waktu pemberian anti biotic profilaktik untuk kelompok prosedur bedah terpilih , demonstrasi pemantauan sendiri kadar gula darah dan pemberian sendiri hormon insulin, pengukuran kadar obat dalam darah,terutama digoksin,teofilin,fenitoin,dan litium.
• Pengendalian infeksi , infeksi area bedah pada prosedur bedah terpilih,pneumonia pada pasien dengan ventilator , infeksi aliran darah primer pada pasien yang memakai jalur sentral atau jalur umbikulus.
EVALUASI HASIL
Evaluasi dikategorikan sebagai formatif atau sumatif. Evaluasi formatif terjadi secara periodic selama pemberian perawatan , sedangkan evaluasi sumatif terjadi pada akhir aktivitas , seperti di akhir penerimaan , pemulangan atau pemindahan ke tempat lai9n , atau di akhir kerangka waktu tertentu, seperti diakhir sesi penyuluhan.
EVALUASI FORMATIF
Frekuensi perawat mengevaluasi perkembangan pasien tergantung pada factor –factor berikut : kebijakan,standar peraturan,lingkungan palayanan kesehatan,system pencatatan , standar perawatan /pedoman praktik, diagnosis atau masalah keperawatan ,kerangka waktu yang dispesifikan dengan hasil ,dan intervensi keperawatan.
KEBIJAKAN
Kebijakan lembaga palayanan kesehatan mengatur frekuensi perawat dalam mendokumentasikan evaluasi perkembangan pasien . Kebijakan ini dapat ditetapkan dengan berbagai cara .Suatu lembaga dapat mempunyai kebijakan dokumentasi umum yang mengatur frekuensi evaluasi (msl . kebijakan yang mengharuskan rencana keperawatan dievaluasi setiap jam, setiap hari dan setiap minggu).
STANDAR PERATURAN
Standar peraturan lembaga juga dapat digunakan untuk mengatur kerangka waktu evaluasi . Sebagai contoh , joint commission mengharuskan lembaga pelayanan kesehatan agar menetapkan waktu untuk mengkaji ulang pasien dan mengevaluasi kemampuan pasien atau orang tertentu dalam melakukan aktivitas perawatan diri .
SISTEM DAN FORMAT PENCATATAN
System pencatatan yang digunakan oleh fasilitas menetapkan frekuensi perawat harus mendokumentasikan evaluasi. Sebagai contoh : seperti yang didiskusikan pada bab 7, pencatatan masalah intervensi dan evaluasi menganjurkan bahwa hasil harus dievaluasi setiap 8 jam dan diringkas sekali setiap 24 jam.
Format rekam medis juga mengatur frekuensi pencatatan hasil . Sebagai contoh : lavin dan enright(1996) menggambarkan lembar alur yang digunakan di unit rawat inap pasien ketergantungan obat. Lembar bolak-balik terdiri dari 3 kolom dan tiap halaman digunakan perjam dinas. Kolom sebelah kiri mencantumkan gejala-gejala khas yang dialami oleh pasien yang sedang menjalani detoksifikasi obat obatan atau alcohol . Kolom tengah terdapat ruang untuk mencatat intervensi keperawatan yang digunakan untuk mengobati gejala-gejala tersebut .Intervensi standar dicetak ulang pada format tersebut .Kolom paling kanan digunakan untuk mencatat respon atau hasil pasien . Masalah yang masih ada atau informasi tambahan didokumentasikan pada catatan perkembangan.
STANDAR PERAWATAN DAN PEDOMAN PRAKTIK
Standar perawatan dan pedoman praktik menjelaskan frekuensi untuk mengevaluasi hasil.Sebagai contoh , pedoman praktik untuk pengobatan gangguan integritas kulit menganjurkan perawat untuk mengevaluasi dan mendokumentasikan kondisi kulit pasien setiap 8 jam.
MASALAH ATAU DIAGNOSIS KEPERAWATAN
Jenis masalah atau diagnosis keperawatan dapat mempengaruhi frekuensi evaluasi .Pada saat menetapkan diagnosis keperawatan pasien ,seperti yang didiskusikan pada bab 3 pearawat mengidentifikasi masalah yang paling penting.Respon yang sangat mempengaruhi kesejahteraan pasien mendapat prioritas paling tinggi. Kebutuhan fisiologis dasar pasien ,termasuk kebutuhan makanan ,udara ,eliminasi,dan sirkulasi biasanya menjadi kebutuhan yang paling mendesak. Kebutuhan – kebutuhan ini umumnya harus diatasi sebelum berfokus pada kebutuhan psikososial.Frekuensi evaluasi akan bervariasi sesuai dengan perubahan kondisi pasien ,selanjutnya dibuat diagnosis keperawatan baru.
KERANGKA WAKTU
Seperti yang telah didiskusikan pada bab 3 ,kerangka waktu menginformasikan pada perawat kapan saatnya mengevaluasi hasil . Hal-hal yang tercantum dalam kerangka waktu,seperti”dalam 24 jam”.”pada saat pemulangan”,atau”pada saat sesi penyuluhan ketiga,”merupakan panduan yang sangat berguna bagi perawat yang akan mengevaluasi hasil. Kerangka waktu juga di jelaskan pada alur kritis.
INTERVENSI KEPERAWATAN
Intervensi keperawatan dapat menjelaskan seberapa sering setatus pasien harus dipantau atau dilakukan tindakan keperawatan lainya. Misalnya ,intervensi keperawatan mengtauskultasi bunyi napas setiap jam dinas mengindikasikan bahwa rekam medis harus berisi tentang penjelasan bunyi napas. Intervensi yang jelas dan spesifik,mempermudah pendokumentasian dengan menjelaskan tindakan keperawatan yang diharapkan.
EVALUASI SUMATIF
Evaluasi sumatif biasanya dilakukan pada saat pemindahan atau pemulangan pasien. Berpikir kritis dan penilaian klinis harus digunakan jika status pasien tidak sesuai dengan rencana pemulangan.
FORMAT PEMINDAHAN
Standar joint commission (1996) menyatakan rumah sakit harus menyatakan bahwa asuhan keperawatan pasien dan informasi klinis yang tepat harus di tukar pada saat pasien masuk ,dirujuk ,dipindahkan, atau dipulangkan . Satu metode umum untuk memastikan bahwa pertukaran informasi ini terjadi adalah dengan menggunakan format pemindahan dan format pemulangan . Format pemindahan digunakan untuk mengkomunikasikan informasi penting tentang status pasien pada saat pasien dipindahkan di fasilitas yang sama ,antara dua fasilitas atau antara rumah pasien dengan institusi.
FORMAT PEMULANGAN
Kebutuhan pasien harus di evaluasi ketika Ia pulang dari fasilitas perawatan kesehatan. Kebutuhan ini akan mengarahkan pemberian perawatan yang berkelanjutan. Jenis format pemulangan yang berbeda antara lain adalah lembar ringkasan pemulangan dan lembar instruksi pemulangan .
Ringkasan pemulangan . Ringkasan dipakai dipakai di beberapa fasilitas dan digunakan untuk mendokumentasikan penyelesaian proses pemulangan , untuk memastikan bahwa semua langkah yang tepat telah selesai dilakukan.
Lembar instruksi pemulangan . Lembar instruksi pemulangan berisi daftar instruksi-instruksi pemulangan untuk diet,pengobatan ,obat-obatan,aktivitas,dan pemeriksaan tindak lanjut .
CARA PENDOKUMENTASIAN HASIL
Berikut ini adalah beberapa konsep yang biasanya terdapat pada catatan perkembangan , termasuk contoh keterangan evaluative :
• Perkembangan kearah pencapaian hasil
• Respon terhadap obat-obatan
• Respon perubahan aktivitas
• Toleransi terhadap pengobatan atau perubahan posisi
• Kemampuan melakukan aktivitas hidup sehari-hari,terutama yang mempengaruhi rencana pemulangan
• Respon terhadap diet atau perubahan diet
DOKUMENTASI PENYULUHAN PASIEN
Tujuan dari penyuluhan difokuskan pada perbaikan kesehatan melalui peningkatan perilaku sehat dan terlibatnya petugas kesehatan dalam membuat keputusan. Faktor yang terbukti efektif dalam meningkatkan pendokumentasian penyuluhan pasien adalah sebagai berikut :
• Buat kegiatan penyuluhan pasien sebagai bagian dari deskripsi kerja perawat
• Masukan kegiatan penyuluhan penyuluhan pasien sebagai factor yang mempengaruhi peningkatan jasa dan jabatan
• Perkuat kegiatan penyuluhan pasien melalui aktivitas perbaikan mutu
• Masukan kegiatan penyuluhan pasien sebagai bagian dari standar praktik
• Perkuat kegiatan penyuluhan pasien melalui perhatian administrative terhadap pendokumentasian
• Perbaiki format pendokumentasian untuk memberi penekanan pada penyuluhan
• Fokuskan pengembangan dan pendidikan staf pada penyuluhan pasien
Pada akhir penyuluhan tergantung dari informasi yang diberikan perawat harus mampu mendokumentasikan hal-hal berikut :
• Peningkatan pengetahuan pasien dalam pemberian obat ,penggunaan alat-alat medis,interaksi obat dengan makanan ,nutrisi ,sumber-sumber yang ada pada komunitas,dan gejala-gejala yang harus dilaporkan pada pemberi pelayanan kesehatan .
• Peningkatan kemampuan pasien ,keluarga ,atau keduanya untuk melakukan ketrampilan keperawatan diri dan penggunaan teknik-teknik rehabilitasi nuntuk meningkatkan tingkiat fungsi pasien.
• Respon pasien terhadap informasi yang diberikan.
METODE EVALUASI KEBERHASILAN PENYULUHAN PASIEN
• Demonstrasi ulang merupakan cara yang paling bermanfaat dalam mengevaluasi ketrampilan psikomotor
• Tes tertulis merupakan alat obyektif yang digunakan untuk mengukur pengetahuan
• Catatan harian yang dibuat oleh pasien untuk mencatat data-data
• Diskusi yaitu meminta pasien untuk mengingat kembali apa yang telah diajarkan kepadanya ,yang memungkinkan perawat untuk mengoreksi kesalahan konsep yang terjadi pada pasien dan mengevaluasi ingatan pasien.
• Observasi perilaku verbal dan nonverbal ,bermain peran ,dan sikap yang diekspresikan melalui perilaku yang dapat dijadikan petunjuk untuk pembelajaran
• Kuesioner digunakan untuk mengevaluasi perubahan sikap pasien
• Penyelesaian masalah dan simulasi ,yaitu melibatkan pasien dalam situasi teoritis dan memintanya untuk menggambarkan cara menangani situasi tersebut .
PENGKAJIAN ULANG
Pengkajian ulang merupakan pemantauan status pasien yang konstan yang meihat respon pasien terhadap interventasi keperawatan dan kemajuan kearah pencapaian hasil yang diharapkan.Evaluasi data menentukan :
• Ketepatan tindakan keperawatan
• Kebutuhan untuk merevisi intervensi
• Perkembangan masalah atau kebutuhan pasien yang baru
• Kebutuhan untuk rujukan ke sumber-sumber lain
• Kebutuhan untuk menyusun kembali prioritas untuk memenuhi kebutuhan perawatan yang berubah
Hal-hal yang diharapkan dapat dievaluasi dengan :
• Observasi langsung
• Wawancara dengan pasien
• Peninjauan catatan
malaria
MAKALAH MALARIA
Di susun oleh :
WIWI MUSTOFA
1c
D3 Keperawatan
STIKES MUHAMMADIYAH GOMBONG
2008/2009
A. PENGERTIAN MALARIA
Malaria adalah infeksi Protozoa (Plasmodium), yang ditularkan melalui Malaria adalah suatu infeksi sel darah merah oleh Plasmodium.
Malaria adalah penyakit yang menyerang manusia, burung, kera dan primata lainnya, hewan melata dan hewan pengerat, yang disebabkan oleh infeksi protozoa dari genus Plasmodium dan mudah dikenali dari gejala meriang (panas dingin menggigil) serta demam berkepanjangan Dengan munculnya program pengendalian yang didasarkan pada penggunaan residu insektisida, penyebaran penyakit malaria telah dapat diatasi dengan cepat. Sejak tahun 1950, malaria telah berhasil dibasmi di hampir seluruh Benua Eropa dan di daerah seperti Amerika Tengah dan Amerika Selatan. Namun penyakit ini masih menjadi masalah besar di beberapa bagian Benua Afrika dan Asia Tenggara. Sekitar 100 juta kasus penyakit malaria terjadi setiap tahunnya dan sekitar 1 persen diantaranya fatal. Seperti kebanyakan penyakit tropis lainnya, malaria merupakan penyebab utama kematian di negara berkembang. Pertumbuhan penduduk yang cepat, migrasi, sanitasi yang buruk, serta daerah yang terlalu padat, membantu memudahkan penyebaran penyakit tersebut. Pembukaan lahan-lahan baru serta perpindahan penduduk dari desa ke kota (urbanisasi) telah memungkinkan kontak antara nyamuk dengan manusia yang bermukim didaerah tersebut. mudah dikenali dari gejala meriang (panas dingin menggigil) serta demam
Malaria disebarkan melalui:
• Gigitan nyamuk betina Anopheles
• Transfusi darah yang terkontaminasi
• Suntikan dengan jarum yang sebelumnya telah digunakan oleh penderita malaria.
gigitan nyamuk Anopheles
Sejak tahun 1638 malaria telah diatasi dengan getah dari batang pohon cinchona, yang lebih dikenal dengan nama kina, yang sebenarnya beracun dan menekan pertumbuhan protozoa dalam jaringan darah. Pada tahun 1930, ahli obat-obatan Jerman berhasil menemukan Atabrine ( quinacrine hydrocloride ) yang pada saat itu lebih efektif daripada quinine dan kadar racunnya lebih rendah. Sejak akhir perang dunia kedua, klorokuin dianggap lebih mampu menangkal dan menyembuhkan demam rimba secara total, juga lebih efektif dalam menekan jenis-jenis malaria dibandingkan dengan Atabrine atau quinine. Obat tersebut juga mengandung kadar racun paling rendah daripada obat-obatan lain yang terdahulu dan terbukti efektif tanpa perlu digunakan secara terus menerus. Namun baru-baru ini strain Plasmodium falciparum, organisme yang menyebabkan malaria tropika memperlihatkan adanya daya tahan terhadap klorokuin serta obat anti malaria sintetik lain. Strain jenis ini ditemukan terutama di Vietnam, dan juga di semenanjung Malaysia, Afrika dan Amerika Selatan. Kina juga semakin kurang efektif terhadap strain plasmodium falciparum. Seiring dengan munculnya strain parasit yang kebal terhadap obat-obatan tersebut, fakta bahwa beberapa jenis nyamuk pembawa (anopheles) telah memiliki daya tahan terhadap insektisida seperti DDT telah mengakibatkan peningkatan jumlah kasus penyakit malaria di beberapa negara tropis. Sebagai akibatnya, kasus penyakit malaria juga mengalami peningkatan pada para turis dari Amerika dan Eropa Barat yang datang ke Asia dan Amerika Tengah dan juga diantara pengungsi-pengungsi dari daerah tersebut. Para turis yang datang ke tempat yang dijangkiti oleh penyakit malaria yang tengah menyebar, dapat diberikan obat anti malaria seperti profilaksis (obat pencegah). Obat-obat pencegah malaria seringkali tetap digunakan hingga beberapa minggu setelah kembali dari bepergian. Mefloquine telah dibuktikan efektif terhadap strain malaria yang kebal terhadap klorokuin, baik sebagai pengobatan ataupun sebagai pencegahan. Namun obat tersebut saat ini tengah diselidiki apakah dapat menimbulkan Saat ini para ahli masih tengah berusaha untuk menemukan vaksin untuk malaria. Beberapa vaksin yang dinilai memenuhi syarat kini tengah diuji coba klinis guna keamanan dan keefektifan dengan menggunakan sukarelawan, sementara ahli lainnya tengah berupaya untuk menemukan vaksin untuk penggunaan umum. Penyelidikan tengah dilakukan untuk menemukan sejumlah obat dengan bahan dasar artemisin, yang digunakan oleh ahli obat-obatan Cina untuk menyembuhkan demam. Bahan tersebut terbukti efektif terhadap Plasmodium falciparum namun masih sangat sulit untuk diperbanyak jumlahnya. efek samping yang merugikan. Suatu kombinasi dari sulfadoxine dan pyrimethamine digunakan untuk pencegahan di daerah-daerah yang terjangkit malaria yang telah kebal terhadap klorokuin. Sementara Proguanil digunakan hanya sebagai pencegahan.
B. PENYEBAB
Terdapat 4 spesies parasit malaria:
• Plasmodium vivax
• Plasmodium ovale
• Plasmodium falciparum
• Plasmodium malariae,
yang kesemuanya bisa menginfeksi manusia dan menyebabkan malaria.
P. falciparum merupakan penyebab infeksi terbanyak dan paling berbahaya.
SIKLUS HIDUP
PerjalSiklus hidup parasit malaria berawal ketika seekor nyamuk betina menggigit penderita malaria. Nyamuk mengisap darah yang mengandung parasit malaria, yang selanjutnya akan berpindah ke dalam kelenjar liur nyamuk.
Jika nyamuk ini kembali menggigit manusia, maka parasit akan ditularkan melalui air liurnya. Di dalam tubuh manusia, parasit masuk ke dalam hati dan berkembangbiak disana.
Pematangan parasit berlangsung selama 2-4 minggu, setelah itu mereka akan meninggalkan hati dan menyusup ke dalam sel darah merah.
Parasit berkembangbiak di dalam sel darah merah dan pada akhirnya menyebabkan sel yang terinfeksi ini pecah.
Plasmodium vivax dan Plasmodium ovale mungkin akan tetap berada di dalam sel-sel hati dan secara periodik akan melepaskan parasit yang matang ke dalam aliran darah, sehingga menyebabkan serangan dari gejala-gejala malaria.
Plasmodium falciparum dan Plasmodium malariae akan keluar dari hati. Jika infeksi tidak diobati atau diobati tidak sampai tuntas, maka bentuk Plasmodium falciparum dewasa akan tetap berada di dalam darah selama berbulan-bulan dan Plasmodium malariae dewasa tetap berada di dalam darah selama bertahun-tahun, menyebabkan serangan gejala malaria yang berulang-ulang. anan penyakit:
• Demam terjadi saat sporulasi dan destruksi eritrosit -> keluar zat pirogen -> demam
• Anemia karena sporulasi dan destruksi Eritrosit
• Terjadi Aglutinasi Erytrosit intravaskuler
• Anoksia sel karena anemia dan aglutinasi
• Hepatospleenomegali karena hypertrofi RES
• Ikterus krn hemolisis eritrosit intravaskuler
• Anemia Malaria oleh P. falsifarum lebih hebat daripada lain
Gejala klinis:
• Masa tunas antara 10-14 hari
• Fase prodormal: menggigil, demam, nyeri kepala, nyeri otot, anoreksi, lelah
• Gejala khas: serangan berulang paroksismal, menggigil-demam-berkeringat-rekonvalesen
• Ikterus, Anemia, Hepatomegali, Spleenomegali, Hipotensi postural, Urobilinuria
• Plasmodium vivax: demam tiap hari ke 3
• Plasmodium falsifarum: demam kurang 48 jam
• Plasmodium malariae: demam tiap 72 jam
Gejala biasanya mulai timbul dalam waktu 10-35 hari setelah parasit masuk ke dalam tubuh manusia melalui gigitan nyamuk.
Gejala awalnya seringkali berupa demam ringan yang hilang-timbul, sakit kepala, sakit otot dan menggigil, bersamaan dengan perasaan tidak enak badan (malaise).
Kadang gejalanya diawali dengan menggigil yang diikuti oleh demam.
Gejala ini berlangsung selama 2-3 hari dan sering diduga sebagai gejala flu.
Gejala berikutnya dan pola penyakitnya pada keempat jenis malaria ini berbeda:
Pada malaria falciparum bisa terjadi kelainan fungsi otak, yaitu suatu komplikasi yang disebut malaria serebral. Gejalanya adalah demam minimal 40?Celsius, sakit kepala hebat, mengantuk, delirium (mengigau) dan linglung. Malaria serebral bisa berakibat fatal. Paling sering terjadi pada bayi, wanita hamil dan pelancong yang baru datang dari daerah malaria.
Pda malaria vivax, mengigau bisa terjadi jika demamnya tinggi, sedangkan gejala otak lainnya tidak ada.
Pada semua jenis malaria, jumlah sel darah putih total biasanya normal tetapi jumlah limfosit dan monosit meningkat.
Jika tidak diobati, biasanya akan timbul jaundice ringan (sakit Jika sejumlah kecil parasit menetap di dalam darah, kadang malari bersifat menetap.
Gejalanya adalah apati, sakit kepala yang timbul secara periodik, merasa tidak enak badan, nafsu makan berkurang, lelah disertai serangan menggigil dan demam.
Gejala tersebut sifatnya lebih ringan dan serangannya berlangsung lebih pendek dari serangan pertama.
Blackwater fever adalah suatu komplikasi malaria yang jarang terjadi.
Demam ini timbul akibat pecahnya sejumlah sel darah merah. Sel yang pecah melepaskan pigmen merah (hemoglobin) ke dalam aliran darah. Hemoglobin ini dibuang melalui air kemih dan merubah warna air kemih menjadi gelap.
Blackwater fever hampir selalu terjadi pada penerita malaria falciparum menahun, terutama yang mendapatkan pengobatan kuinin. kuning) serta pembesaran hati dan limpa.
Kadar gula darah rendah dan hal ini lebih berat pada penderita yang di dalam darahnya mengandung lebih banyak parasit. Kadar gula darah bahkan bisa turun lebih rendah pada penderita yang diobati dengan kuinin.
Gejala & pola malaria
1. Malaria Vivax & Ovale.
Suatu serangan bisa dimulai secara samar-samar dengan menggigil, diiukuti berkeringat dan demam yang hilang-timbul.
Dalam 1 minggu, akan terbentuk pola yang khas dari serangan yang hilang timbul. Suatu periode sakita kepala atau rasa tidak enak badan akan diikuti oleh menggigil. Demam berlangsung selama 1-8 jam. Setelah demam reda, penderita merasakan sehat sampai terjadi menggigil berikutnya.
Pada malaria vivax, serangan berikutnya cenderung terjadi setiap 48 jam.
2. Malariafalciparum.
Suatu serangan bisa diawali dengan menggigil. Suhu tubuh naik secara bertahap kemudian tiba-tiba turun.
Serangan bisa berlangsung selama 20-36 jam.
Penderita tampak lebih sakit dibandingkan dengan malaria vivax dan sakit kepalanya hebat.
Diantara serangan (dengan selang waktu 36-72 jam), penderita biasanya merasa tidak enak badan dan mengalami demam ringan.
3. Malaria malariae.
Suatu serangan seringkali dimulai secara samar-samar.
Serangannya menyerupai malaria vivax dengan selang waktu antara dua serangan adalah 72 jam.
C.DIAGNOSA
Diagnosis ditegakkan berdasarkan gejalanya, dimana terjadi serangan demam dan menggigil secara periodik tanpa penyebab yang jelas.
Dugaan malaria semakin kuat jika dalam waktu 1 tahun sebelumnya, penderita telah mengunjungi daerah malaria dan pada pemeriksaan fisik ditemukan pembesaran limpa.
Untuk memperkuat diagnosis dilakukan pemeriksaan darah guna menemukan parasit penyebabnya.
Mungkin perlu dilakukan beberapa kali pemeriksaan karena kadar parasit di dalam darah bervariasi dari waktu ke waktu.
Pengobatan, komplikasi dan prognosis dari malaria ditentukan oleh jenis parasit penyebabnya.
D.PENGOBATAN
Pengobatan malaria tergantung kepada jenis parasit dan resistensi parasit terhadap klorokuin.
Untuk suatu serangan malaria falciparum akut dengan parasit yang resisten terhadap klorokuin, bisa diberikan kuinin atau kuinidin secara intravena.
Pada malaria lainnya jarang terjadi resistensi terhadap klorokuin, karena itu biasanya diberikan klorokuin dan primakuin.
E.PENCEGAHAN
Orang-orang yang tinggal di daerah malaria atau yang mengadakan perjalanan ke daerah malaria bisa melakukan hal-hal berikut:
• Menggunakan semprotan pembasmi serangga di dalam dan di luar rumah
• Memasang tirai di pintu dan jendela
• Memasang kawat nyamuk
• Mengoleskan obat anti nyamuk di kulit
• Mengenakan pakaian yang menutupi tubuh sehingga mengurangi daerah tubuh yang digigit nyamuk.
• Obat-obatan bisa diminum untuk mencegah malaria selama melakukan perjalanan ke daerah malaria. Obat ini mulai diminum 1 minggu sebelum perjalanan dilakukan, dilanjutkan selama tinggal di daerah malaria dan 1 bulan setelah meninggalkan daerah malaria.
Obat yang paling sering digunakan adalah klorokuin. Tetapi banyak daerah yang memiliki spesies Plasmodium falciparum yang sudah resisten terhadap obat ini.
Obat lainnya yang bisa digunakan adalah meflokuin dan doksisiklin. Doksisiklin tidak boleh diberikan kepada anak-anak dibawah usia 8 tahun dan wanita hamil.
Beberapa hal yang perlu diingat mengenai malaria:
• Obat-obat yang digunakan dalam tindakan pencegahan tidak 100% efektif
• Gejalanya bisa timbul 1 bulan atau lebih setelah gigitan nyamuk
• Gejala awalnya tidak spesifik dan seringkali disalahartikan sebagai influenza
• Diagnosis dan pengobatan dini sangat penting, terutama pada malaria falciparum, yang bisa berakibat fatal pada lebih dari 20% penderita.
Di susun oleh :
WIWI MUSTOFA
1c
D3 Keperawatan
STIKES MUHAMMADIYAH GOMBONG
2008/2009
A. PENGERTIAN MALARIA
Malaria adalah infeksi Protozoa (Plasmodium), yang ditularkan melalui Malaria adalah suatu infeksi sel darah merah oleh Plasmodium.
Malaria adalah penyakit yang menyerang manusia, burung, kera dan primata lainnya, hewan melata dan hewan pengerat, yang disebabkan oleh infeksi protozoa dari genus Plasmodium dan mudah dikenali dari gejala meriang (panas dingin menggigil) serta demam berkepanjangan Dengan munculnya program pengendalian yang didasarkan pada penggunaan residu insektisida, penyebaran penyakit malaria telah dapat diatasi dengan cepat. Sejak tahun 1950, malaria telah berhasil dibasmi di hampir seluruh Benua Eropa dan di daerah seperti Amerika Tengah dan Amerika Selatan. Namun penyakit ini masih menjadi masalah besar di beberapa bagian Benua Afrika dan Asia Tenggara. Sekitar 100 juta kasus penyakit malaria terjadi setiap tahunnya dan sekitar 1 persen diantaranya fatal. Seperti kebanyakan penyakit tropis lainnya, malaria merupakan penyebab utama kematian di negara berkembang. Pertumbuhan penduduk yang cepat, migrasi, sanitasi yang buruk, serta daerah yang terlalu padat, membantu memudahkan penyebaran penyakit tersebut. Pembukaan lahan-lahan baru serta perpindahan penduduk dari desa ke kota (urbanisasi) telah memungkinkan kontak antara nyamuk dengan manusia yang bermukim didaerah tersebut. mudah dikenali dari gejala meriang (panas dingin menggigil) serta demam
Malaria disebarkan melalui:
• Gigitan nyamuk betina Anopheles
• Transfusi darah yang terkontaminasi
• Suntikan dengan jarum yang sebelumnya telah digunakan oleh penderita malaria.
gigitan nyamuk Anopheles
Sejak tahun 1638 malaria telah diatasi dengan getah dari batang pohon cinchona, yang lebih dikenal dengan nama kina, yang sebenarnya beracun dan menekan pertumbuhan protozoa dalam jaringan darah. Pada tahun 1930, ahli obat-obatan Jerman berhasil menemukan Atabrine ( quinacrine hydrocloride ) yang pada saat itu lebih efektif daripada quinine dan kadar racunnya lebih rendah. Sejak akhir perang dunia kedua, klorokuin dianggap lebih mampu menangkal dan menyembuhkan demam rimba secara total, juga lebih efektif dalam menekan jenis-jenis malaria dibandingkan dengan Atabrine atau quinine. Obat tersebut juga mengandung kadar racun paling rendah daripada obat-obatan lain yang terdahulu dan terbukti efektif tanpa perlu digunakan secara terus menerus. Namun baru-baru ini strain Plasmodium falciparum, organisme yang menyebabkan malaria tropika memperlihatkan adanya daya tahan terhadap klorokuin serta obat anti malaria sintetik lain. Strain jenis ini ditemukan terutama di Vietnam, dan juga di semenanjung Malaysia, Afrika dan Amerika Selatan. Kina juga semakin kurang efektif terhadap strain plasmodium falciparum. Seiring dengan munculnya strain parasit yang kebal terhadap obat-obatan tersebut, fakta bahwa beberapa jenis nyamuk pembawa (anopheles) telah memiliki daya tahan terhadap insektisida seperti DDT telah mengakibatkan peningkatan jumlah kasus penyakit malaria di beberapa negara tropis. Sebagai akibatnya, kasus penyakit malaria juga mengalami peningkatan pada para turis dari Amerika dan Eropa Barat yang datang ke Asia dan Amerika Tengah dan juga diantara pengungsi-pengungsi dari daerah tersebut. Para turis yang datang ke tempat yang dijangkiti oleh penyakit malaria yang tengah menyebar, dapat diberikan obat anti malaria seperti profilaksis (obat pencegah). Obat-obat pencegah malaria seringkali tetap digunakan hingga beberapa minggu setelah kembali dari bepergian. Mefloquine telah dibuktikan efektif terhadap strain malaria yang kebal terhadap klorokuin, baik sebagai pengobatan ataupun sebagai pencegahan. Namun obat tersebut saat ini tengah diselidiki apakah dapat menimbulkan Saat ini para ahli masih tengah berusaha untuk menemukan vaksin untuk malaria. Beberapa vaksin yang dinilai memenuhi syarat kini tengah diuji coba klinis guna keamanan dan keefektifan dengan menggunakan sukarelawan, sementara ahli lainnya tengah berupaya untuk menemukan vaksin untuk penggunaan umum. Penyelidikan tengah dilakukan untuk menemukan sejumlah obat dengan bahan dasar artemisin, yang digunakan oleh ahli obat-obatan Cina untuk menyembuhkan demam. Bahan tersebut terbukti efektif terhadap Plasmodium falciparum namun masih sangat sulit untuk diperbanyak jumlahnya. efek samping yang merugikan. Suatu kombinasi dari sulfadoxine dan pyrimethamine digunakan untuk pencegahan di daerah-daerah yang terjangkit malaria yang telah kebal terhadap klorokuin. Sementara Proguanil digunakan hanya sebagai pencegahan.
B. PENYEBAB
Terdapat 4 spesies parasit malaria:
• Plasmodium vivax
• Plasmodium ovale
• Plasmodium falciparum
• Plasmodium malariae,
yang kesemuanya bisa menginfeksi manusia dan menyebabkan malaria.
P. falciparum merupakan penyebab infeksi terbanyak dan paling berbahaya.
SIKLUS HIDUP
PerjalSiklus hidup parasit malaria berawal ketika seekor nyamuk betina menggigit penderita malaria. Nyamuk mengisap darah yang mengandung parasit malaria, yang selanjutnya akan berpindah ke dalam kelenjar liur nyamuk.
Jika nyamuk ini kembali menggigit manusia, maka parasit akan ditularkan melalui air liurnya. Di dalam tubuh manusia, parasit masuk ke dalam hati dan berkembangbiak disana.
Pematangan parasit berlangsung selama 2-4 minggu, setelah itu mereka akan meninggalkan hati dan menyusup ke dalam sel darah merah.
Parasit berkembangbiak di dalam sel darah merah dan pada akhirnya menyebabkan sel yang terinfeksi ini pecah.
Plasmodium vivax dan Plasmodium ovale mungkin akan tetap berada di dalam sel-sel hati dan secara periodik akan melepaskan parasit yang matang ke dalam aliran darah, sehingga menyebabkan serangan dari gejala-gejala malaria.
Plasmodium falciparum dan Plasmodium malariae akan keluar dari hati. Jika infeksi tidak diobati atau diobati tidak sampai tuntas, maka bentuk Plasmodium falciparum dewasa akan tetap berada di dalam darah selama berbulan-bulan dan Plasmodium malariae dewasa tetap berada di dalam darah selama bertahun-tahun, menyebabkan serangan gejala malaria yang berulang-ulang. anan penyakit:
• Demam terjadi saat sporulasi dan destruksi eritrosit -> keluar zat pirogen -> demam
• Anemia karena sporulasi dan destruksi Eritrosit
• Terjadi Aglutinasi Erytrosit intravaskuler
• Anoksia sel karena anemia dan aglutinasi
• Hepatospleenomegali karena hypertrofi RES
• Ikterus krn hemolisis eritrosit intravaskuler
• Anemia Malaria oleh P. falsifarum lebih hebat daripada lain
Gejala klinis:
• Masa tunas antara 10-14 hari
• Fase prodormal: menggigil, demam, nyeri kepala, nyeri otot, anoreksi, lelah
• Gejala khas: serangan berulang paroksismal, menggigil-demam-berkeringat-rekonvalesen
• Ikterus, Anemia, Hepatomegali, Spleenomegali, Hipotensi postural, Urobilinuria
• Plasmodium vivax: demam tiap hari ke 3
• Plasmodium falsifarum: demam kurang 48 jam
• Plasmodium malariae: demam tiap 72 jam
Gejala biasanya mulai timbul dalam waktu 10-35 hari setelah parasit masuk ke dalam tubuh manusia melalui gigitan nyamuk.
Gejala awalnya seringkali berupa demam ringan yang hilang-timbul, sakit kepala, sakit otot dan menggigil, bersamaan dengan perasaan tidak enak badan (malaise).
Kadang gejalanya diawali dengan menggigil yang diikuti oleh demam.
Gejala ini berlangsung selama 2-3 hari dan sering diduga sebagai gejala flu.
Gejala berikutnya dan pola penyakitnya pada keempat jenis malaria ini berbeda:
Pada malaria falciparum bisa terjadi kelainan fungsi otak, yaitu suatu komplikasi yang disebut malaria serebral. Gejalanya adalah demam minimal 40?Celsius, sakit kepala hebat, mengantuk, delirium (mengigau) dan linglung. Malaria serebral bisa berakibat fatal. Paling sering terjadi pada bayi, wanita hamil dan pelancong yang baru datang dari daerah malaria.
Pda malaria vivax, mengigau bisa terjadi jika demamnya tinggi, sedangkan gejala otak lainnya tidak ada.
Pada semua jenis malaria, jumlah sel darah putih total biasanya normal tetapi jumlah limfosit dan monosit meningkat.
Jika tidak diobati, biasanya akan timbul jaundice ringan (sakit Jika sejumlah kecil parasit menetap di dalam darah, kadang malari bersifat menetap.
Gejalanya adalah apati, sakit kepala yang timbul secara periodik, merasa tidak enak badan, nafsu makan berkurang, lelah disertai serangan menggigil dan demam.
Gejala tersebut sifatnya lebih ringan dan serangannya berlangsung lebih pendek dari serangan pertama.
Blackwater fever adalah suatu komplikasi malaria yang jarang terjadi.
Demam ini timbul akibat pecahnya sejumlah sel darah merah. Sel yang pecah melepaskan pigmen merah (hemoglobin) ke dalam aliran darah. Hemoglobin ini dibuang melalui air kemih dan merubah warna air kemih menjadi gelap.
Blackwater fever hampir selalu terjadi pada penerita malaria falciparum menahun, terutama yang mendapatkan pengobatan kuinin. kuning) serta pembesaran hati dan limpa.
Kadar gula darah rendah dan hal ini lebih berat pada penderita yang di dalam darahnya mengandung lebih banyak parasit. Kadar gula darah bahkan bisa turun lebih rendah pada penderita yang diobati dengan kuinin.
Gejala & pola malaria
1. Malaria Vivax & Ovale.
Suatu serangan bisa dimulai secara samar-samar dengan menggigil, diiukuti berkeringat dan demam yang hilang-timbul.
Dalam 1 minggu, akan terbentuk pola yang khas dari serangan yang hilang timbul. Suatu periode sakita kepala atau rasa tidak enak badan akan diikuti oleh menggigil. Demam berlangsung selama 1-8 jam. Setelah demam reda, penderita merasakan sehat sampai terjadi menggigil berikutnya.
Pada malaria vivax, serangan berikutnya cenderung terjadi setiap 48 jam.
2. Malariafalciparum.
Suatu serangan bisa diawali dengan menggigil. Suhu tubuh naik secara bertahap kemudian tiba-tiba turun.
Serangan bisa berlangsung selama 20-36 jam.
Penderita tampak lebih sakit dibandingkan dengan malaria vivax dan sakit kepalanya hebat.
Diantara serangan (dengan selang waktu 36-72 jam), penderita biasanya merasa tidak enak badan dan mengalami demam ringan.
3. Malaria malariae.
Suatu serangan seringkali dimulai secara samar-samar.
Serangannya menyerupai malaria vivax dengan selang waktu antara dua serangan adalah 72 jam.
C.DIAGNOSA
Diagnosis ditegakkan berdasarkan gejalanya, dimana terjadi serangan demam dan menggigil secara periodik tanpa penyebab yang jelas.
Dugaan malaria semakin kuat jika dalam waktu 1 tahun sebelumnya, penderita telah mengunjungi daerah malaria dan pada pemeriksaan fisik ditemukan pembesaran limpa.
Untuk memperkuat diagnosis dilakukan pemeriksaan darah guna menemukan parasit penyebabnya.
Mungkin perlu dilakukan beberapa kali pemeriksaan karena kadar parasit di dalam darah bervariasi dari waktu ke waktu.
Pengobatan, komplikasi dan prognosis dari malaria ditentukan oleh jenis parasit penyebabnya.
D.PENGOBATAN
Pengobatan malaria tergantung kepada jenis parasit dan resistensi parasit terhadap klorokuin.
Untuk suatu serangan malaria falciparum akut dengan parasit yang resisten terhadap klorokuin, bisa diberikan kuinin atau kuinidin secara intravena.
Pada malaria lainnya jarang terjadi resistensi terhadap klorokuin, karena itu biasanya diberikan klorokuin dan primakuin.
E.PENCEGAHAN
Orang-orang yang tinggal di daerah malaria atau yang mengadakan perjalanan ke daerah malaria bisa melakukan hal-hal berikut:
• Menggunakan semprotan pembasmi serangga di dalam dan di luar rumah
• Memasang tirai di pintu dan jendela
• Memasang kawat nyamuk
• Mengoleskan obat anti nyamuk di kulit
• Mengenakan pakaian yang menutupi tubuh sehingga mengurangi daerah tubuh yang digigit nyamuk.
• Obat-obatan bisa diminum untuk mencegah malaria selama melakukan perjalanan ke daerah malaria. Obat ini mulai diminum 1 minggu sebelum perjalanan dilakukan, dilanjutkan selama tinggal di daerah malaria dan 1 bulan setelah meninggalkan daerah malaria.
Obat yang paling sering digunakan adalah klorokuin. Tetapi banyak daerah yang memiliki spesies Plasmodium falciparum yang sudah resisten terhadap obat ini.
Obat lainnya yang bisa digunakan adalah meflokuin dan doksisiklin. Doksisiklin tidak boleh diberikan kepada anak-anak dibawah usia 8 tahun dan wanita hamil.
Beberapa hal yang perlu diingat mengenai malaria:
• Obat-obat yang digunakan dalam tindakan pencegahan tidak 100% efektif
• Gejalanya bisa timbul 1 bulan atau lebih setelah gigitan nyamuk
• Gejala awalnya tidak spesifik dan seringkali disalahartikan sebagai influenza
• Diagnosis dan pengobatan dini sangat penting, terutama pada malaria falciparum, yang bisa berakibat fatal pada lebih dari 20% penderita.
chikungunya
CHIKUNGUNYA
A. DEFINISI CHIKUNGUNYA
CHIKUNGUNYA berasal dari bahasa Swahili berdasarkan gejala pada penderita, yang berarti (posisi tubuh) meliuk atau melengkung, mengacu pada postur penderita yang membungkuk akibat nyeri sendi hebat.
Chikungunya adalah suatu penyakit yang disebabkan oleh virus chikungunya, ditularkan melalui gigitan nyamuk aedes aegypti, aedes albapictus dengan gejala utama demam mendadak, bintik-bintik kemerahan, nyeri sendi terutama sendi lutut dan pergelangan kaki sehinga orang tersebut tidak dapat berjalan untuk sementara waktu. Biasanya menyerang sekelompok orang dalam suatu wilayah tertentu.
Mash banyak angapan dikalangan masyarakat, bahwa demam chikungunya atau flu tulang atau demam tulang sebagai penyakit yang berbahaya, sehinga membuat panik. Tidak jarang pula meyakini bahwa penyakit ini dapat menyebabkan kelumpuhan.
B. EPIDEMOLOGI
Virus chikungunya pertama kali diidentifikasikan di afrika timur tahun 1952. virus ini terus menimbulkan epidemic di wilayah tropis asia dan afrika. Di Indonesia demam chikungunya dilaporkan pertama kali di samarinda tahun 1973. kemudian kemudian berjangkit di kuala tungkal, jambi, tahun 1980. tahun 1983 merebak di martapura, ternate dan Yogyakarta. Setelah vakum hamper 20 tahun, awal tahun 2001 kejadian luar biasa demam chikungunya terjadi di muara enim, Sumatra selatan dan aceh. Disusul bogor bulan oktober. Demam chikungunya berjangkit lagi di bekasi jawa barat, puworjo dan klaten jawa tengah tahun 2002.
Penyakit seperti chikungunya pernah dilaporkan pada tahun 1779 di batafia. Selanjutnya tahun 1953 dilaporkan di afrika dan seluruh dunia khususnya didaerah tropis. Di Indonesia penyakit ini dilaporkan kembali tahun 1973 di Kalimantan timur dan Jakarta tahun 1978. kejadian luar biasa pertama dilaporkan dari jambi dan Sumatera selatan pada tahun 1982, yogya th 1983 dan sejak th 1985 seuruh wilayah Indonesia pernah melaporkan kejadian penyakit ini.
Sekitar 200-300 th lalu chikungunya merupakan virus pada hewan primate di tengah hutan atau savanna di afrika. Satwa primate yg dinilai sebagai pelestari bangsa baboon, cercopithecus sp. Siklus di hutan di antara satwa primate dilakukan oleh nyamuk aedes sp. Pembuktian ilmiah yg meliputi isolasi dan identifikasi virus baru berhasil dilakukan krtika terjadi wabah di Tanzania 1952-1953.
Setelah beberapa lama, karakteristik chikungunya virus yang senula bersiklus dari satwa primata-nyamuk-satw pyramid, dapat pula bersiklus manusia-nyamuk-manusia. Tidak semua virus asal hewan dapat berubah siklusnya seperti itu. Di daerah permikiman, siklus virus chikungunya di Bantu oleh nyamuk aedes aegepti.
C. GEJALA DAN MANISFESTASI KLINIKS
Demam tinggi mendadak selama 2-4 hari, disertai nyeri sendi, bengkak kemerahan didaerah lutut, pergelangan kaki, pingul, siku dan jari jari kaki maupun tangan. Bila bergerak rasa sakit pada sendi bertambah banyak.
Gejalanya adalah muka kemerahan, nyeri dibelakang bola mata dan konjungtifa kemerahan. Nyeri kepala, nyeri otot dan terdapat pembesaran kelenjar didaerah leher.
Gejala lain yang dapat timbul adalah mual, muntah, bintik bintik kemerahan seluruh tubuh, bias di sertai gatal. Gejala nyeri sendi dapat bertahan selama beberapa minggu sampai beberapa bulan. Penyakit ini tidak menyebabkan kematian. Dalam beberapa kasus didapat juga penderita yang terinfeksi tanpa menimbulkan gejala yang sama sekali atau silent virus chikungunya.
Secara mendadak penderita akan mengalami damam tingi selama lima hari, sehingga dikenal pula istilah demam lima hari. Pada anak kecil dimulai dengan demam mendadak, kulit kemerahan. Ruam-ruam merah itu muncul setelah 3-5 hr. mata biasanya merah disertai tanda-tanda seperti flu. Sering di jumpai anak kejang demam. Pada anak yang lebih besar, demam biasanya diikuti rasa sakit pada otot dan sendi, serta terjadi pembesararan getah bening. Pada orang dewasa, gejala nyeri sendi dan otot sangat dominant dan sampe menimbulkan kelumpuhan sementara karena rasa sakit bila berjalan. Kadang kadang timbul rasa mual sampai muntah. Pada umumnya demam pada anak hanya berlansung selama 3 hr dgn tanpa atau sedikit sekali dijumpai perdarahan maupun syok.
Meskipun ditularkan oleh nyamuk yg sama dgn penyakit demam berdarah, tetapi karakteristik penyakit ini berbeda. Bedanya dgn demam berdarah dengue, pada chikungunya tdk ada perdarahan hebat, shock maupun kematian. Dengan istirahat cukup, obat demam, kompres, serta antisipasi terhadap kejang demam, penyakit ini biasanya sembuh sendiri dalam 7 hr. setelah terjadi infeksi virus initubuh penderita akan membentuk antibiotic yg akan membuat mereka kebal terhadap wabah penyakit ini di kemudian hari. Dengan demikian, dalam jangka panjang penderita relative kebal terhadap penyakit virus ini.
Penyakit ini tdk sampai menyebabkan kematian. Nyeri pada persendian tdk akan menyebabkan kelumpuhan. Setelah lewat 5 hr, demam akan berangsur angsur reda, rasa ngilu maupun nyri pada persendian dan oton berkuran, dan penderita akan sembuh seperti semula. Penderita dlm beberapa waktu kemudian bias mengerakan tubuhnya seperti sedia kala. Meskipun dalam beberapa kasus kadang rasa nyeri masih tertinggal beberapa hari sampai berbulan-bulan. Biasanya kondisi demikian terjadi pada penderita yg sebelumnya menpunyai riwayat sering nyeri tulang dan otot.
D. PENULARAN DAN PENYEBARAN PENYAKIT
Penyebaran chikungunya dapat ditularkan melalui gigitan nyamuk. Nyamuk dapat menjadi berpotensi menularkan penyakit bila pernah menggigit penyakit chukungunya. Kera dan binatang buas lainya juga diduga dapat sebagai perantara penyakit ini. Nyamuk yg terinfeksi akan menularkan penyakit bila menggit manusia yg sehat. Mengingat penyebaran chikungunya antara Negara relative pelan, kemungkinan penyebaran ini terjadi seiring dengan perpindahan nyamuk.
E. DIAGNOSIS
Untuk memperoleh diagnosis akurat perlu beberapa uji serologic antara lain uji hambatan aglutinasi, serum netralisasi, dan IgM capture ELISA. Tetapi pemeriksaan serologis dan penelitian, tidak bermanfaat utk kepentingan praktis klinis sehari-hari.
F. CARA PENCEGAHAN
A. Jangan biarkan jentik-jentik nyamuk berkembang biak dilingkunggan perumahan. Lakukan pemberantasan sarang nyamuk dgn melakukan “3 M”. lindungi diri anda jangan sampai tergigit nyamuk pada siang hari dgn mengunakan repellent, obat nyamuk coil, memakai kelambu atau memasang kawat kasa dirumah.
B. Pencegahan indifidu dapat dilakukan dgn cara khusus seperti penggunaan obat oleskulit yg menggandung DEET atau zat aktif EOA lainya.
C. Seranga bercorak hitam putih ini juga senang hidup di benda-benda yg menggantung seperti baju-baju yg ada di belakang pintu kamar. Selain itu nyamuk ini juga menyenangi tempat yg gelap dan pengap.
D. Mengingat penyebaran penyakit ini adalah nyamuk aedes aegeypti maka cara terbaik utk memutuskan rantai penularan adalah dgn memberantas nyamuk tersebut.
E. Malation dipakai dgn cara penggasapan bukan dgn menyemprotkan di dinding, melainkan di benda benda yg menggelantung.
F. Halaman atau kebun di sekitar rumah harus bersih dari benda benda yg memungkinkan menampung air bersih saat musim hujan. Pintu dan jendela rumah sebaiknya dibuka setiap hari mulai pagi sampe sore agar udara segar dan sinar matahari dapat masuk.
G. Kabar baiknya penyakit ini sulit menyerang penderita yg sama. Dengan demikian kecil kemungkinan bagi mereka utk kena lagi.
G. PENANGANAN
Demam chikungnya termasuk, self limiting disease atau penyakit yang sembuh dgn sendirinya. Tdk ada faksin maupun obat khusus utk penyakit ini. Pengobatan yg diberikan hanyalah terapi simtomatis atau menghilangkan gejala penyakitya. Seperti, obat penghilang rasa sakit ayau demam seperti golongan parasetamol, sebaiknya dihindarkan penggunaan obat sejenis asetosal. Antibiotika tdk diperlukan pada kasus ini. Penggunaan antibiotika dengan pertimbangan mencegah infeksi sekunder tdk bermanfat.
Jadi, jangan panic apabila terdapat anggota keluarga yg menderitapenyakit ini, sebab tidak sampai terdapat anggota keluarga yang menderita penyakit ini, sebab tdk sampai menyebabkan kematian. Ngilu pada persendian itu tdk menyebabkan kematian.
Bila menemukan penyakit chikungunya lakukan:
1. Segera laporkan ke puskesmas/ dinas kesehatan setempat.
2. Hindari penderita dari gigitan nyamuk agar tdk menyebar ke orang lain.
3. Anjurkan penderita untuk beristirahat selama fase akut.
4. Pada keadaan KLB perlu dilakukan penyemprotan/penggasapan.
5. Lakukan pemeriksaan jentik di rumah dan sekitar rumah.
A. DEFINISI CHIKUNGUNYA
CHIKUNGUNYA berasal dari bahasa Swahili berdasarkan gejala pada penderita, yang berarti (posisi tubuh) meliuk atau melengkung, mengacu pada postur penderita yang membungkuk akibat nyeri sendi hebat.
Chikungunya adalah suatu penyakit yang disebabkan oleh virus chikungunya, ditularkan melalui gigitan nyamuk aedes aegypti, aedes albapictus dengan gejala utama demam mendadak, bintik-bintik kemerahan, nyeri sendi terutama sendi lutut dan pergelangan kaki sehinga orang tersebut tidak dapat berjalan untuk sementara waktu. Biasanya menyerang sekelompok orang dalam suatu wilayah tertentu.
Mash banyak angapan dikalangan masyarakat, bahwa demam chikungunya atau flu tulang atau demam tulang sebagai penyakit yang berbahaya, sehinga membuat panik. Tidak jarang pula meyakini bahwa penyakit ini dapat menyebabkan kelumpuhan.
B. EPIDEMOLOGI
Virus chikungunya pertama kali diidentifikasikan di afrika timur tahun 1952. virus ini terus menimbulkan epidemic di wilayah tropis asia dan afrika. Di Indonesia demam chikungunya dilaporkan pertama kali di samarinda tahun 1973. kemudian kemudian berjangkit di kuala tungkal, jambi, tahun 1980. tahun 1983 merebak di martapura, ternate dan Yogyakarta. Setelah vakum hamper 20 tahun, awal tahun 2001 kejadian luar biasa demam chikungunya terjadi di muara enim, Sumatra selatan dan aceh. Disusul bogor bulan oktober. Demam chikungunya berjangkit lagi di bekasi jawa barat, puworjo dan klaten jawa tengah tahun 2002.
Penyakit seperti chikungunya pernah dilaporkan pada tahun 1779 di batafia. Selanjutnya tahun 1953 dilaporkan di afrika dan seluruh dunia khususnya didaerah tropis. Di Indonesia penyakit ini dilaporkan kembali tahun 1973 di Kalimantan timur dan Jakarta tahun 1978. kejadian luar biasa pertama dilaporkan dari jambi dan Sumatera selatan pada tahun 1982, yogya th 1983 dan sejak th 1985 seuruh wilayah Indonesia pernah melaporkan kejadian penyakit ini.
Sekitar 200-300 th lalu chikungunya merupakan virus pada hewan primate di tengah hutan atau savanna di afrika. Satwa primate yg dinilai sebagai pelestari bangsa baboon, cercopithecus sp. Siklus di hutan di antara satwa primate dilakukan oleh nyamuk aedes sp. Pembuktian ilmiah yg meliputi isolasi dan identifikasi virus baru berhasil dilakukan krtika terjadi wabah di Tanzania 1952-1953.
Setelah beberapa lama, karakteristik chikungunya virus yang senula bersiklus dari satwa primata-nyamuk-satw pyramid, dapat pula bersiklus manusia-nyamuk-manusia. Tidak semua virus asal hewan dapat berubah siklusnya seperti itu. Di daerah permikiman, siklus virus chikungunya di Bantu oleh nyamuk aedes aegepti.
C. GEJALA DAN MANISFESTASI KLINIKS
Demam tinggi mendadak selama 2-4 hari, disertai nyeri sendi, bengkak kemerahan didaerah lutut, pergelangan kaki, pingul, siku dan jari jari kaki maupun tangan. Bila bergerak rasa sakit pada sendi bertambah banyak.
Gejalanya adalah muka kemerahan, nyeri dibelakang bola mata dan konjungtifa kemerahan. Nyeri kepala, nyeri otot dan terdapat pembesaran kelenjar didaerah leher.
Gejala lain yang dapat timbul adalah mual, muntah, bintik bintik kemerahan seluruh tubuh, bias di sertai gatal. Gejala nyeri sendi dapat bertahan selama beberapa minggu sampai beberapa bulan. Penyakit ini tidak menyebabkan kematian. Dalam beberapa kasus didapat juga penderita yang terinfeksi tanpa menimbulkan gejala yang sama sekali atau silent virus chikungunya.
Secara mendadak penderita akan mengalami damam tingi selama lima hari, sehingga dikenal pula istilah demam lima hari. Pada anak kecil dimulai dengan demam mendadak, kulit kemerahan. Ruam-ruam merah itu muncul setelah 3-5 hr. mata biasanya merah disertai tanda-tanda seperti flu. Sering di jumpai anak kejang demam. Pada anak yang lebih besar, demam biasanya diikuti rasa sakit pada otot dan sendi, serta terjadi pembesararan getah bening. Pada orang dewasa, gejala nyeri sendi dan otot sangat dominant dan sampe menimbulkan kelumpuhan sementara karena rasa sakit bila berjalan. Kadang kadang timbul rasa mual sampai muntah. Pada umumnya demam pada anak hanya berlansung selama 3 hr dgn tanpa atau sedikit sekali dijumpai perdarahan maupun syok.
Meskipun ditularkan oleh nyamuk yg sama dgn penyakit demam berdarah, tetapi karakteristik penyakit ini berbeda. Bedanya dgn demam berdarah dengue, pada chikungunya tdk ada perdarahan hebat, shock maupun kematian. Dengan istirahat cukup, obat demam, kompres, serta antisipasi terhadap kejang demam, penyakit ini biasanya sembuh sendiri dalam 7 hr. setelah terjadi infeksi virus initubuh penderita akan membentuk antibiotic yg akan membuat mereka kebal terhadap wabah penyakit ini di kemudian hari. Dengan demikian, dalam jangka panjang penderita relative kebal terhadap penyakit virus ini.
Penyakit ini tdk sampai menyebabkan kematian. Nyeri pada persendian tdk akan menyebabkan kelumpuhan. Setelah lewat 5 hr, demam akan berangsur angsur reda, rasa ngilu maupun nyri pada persendian dan oton berkuran, dan penderita akan sembuh seperti semula. Penderita dlm beberapa waktu kemudian bias mengerakan tubuhnya seperti sedia kala. Meskipun dalam beberapa kasus kadang rasa nyeri masih tertinggal beberapa hari sampai berbulan-bulan. Biasanya kondisi demikian terjadi pada penderita yg sebelumnya menpunyai riwayat sering nyeri tulang dan otot.
D. PENULARAN DAN PENYEBARAN PENYAKIT
Penyebaran chikungunya dapat ditularkan melalui gigitan nyamuk. Nyamuk dapat menjadi berpotensi menularkan penyakit bila pernah menggigit penyakit chukungunya. Kera dan binatang buas lainya juga diduga dapat sebagai perantara penyakit ini. Nyamuk yg terinfeksi akan menularkan penyakit bila menggit manusia yg sehat. Mengingat penyebaran chikungunya antara Negara relative pelan, kemungkinan penyebaran ini terjadi seiring dengan perpindahan nyamuk.
E. DIAGNOSIS
Untuk memperoleh diagnosis akurat perlu beberapa uji serologic antara lain uji hambatan aglutinasi, serum netralisasi, dan IgM capture ELISA. Tetapi pemeriksaan serologis dan penelitian, tidak bermanfaat utk kepentingan praktis klinis sehari-hari.
F. CARA PENCEGAHAN
A. Jangan biarkan jentik-jentik nyamuk berkembang biak dilingkunggan perumahan. Lakukan pemberantasan sarang nyamuk dgn melakukan “3 M”. lindungi diri anda jangan sampai tergigit nyamuk pada siang hari dgn mengunakan repellent, obat nyamuk coil, memakai kelambu atau memasang kawat kasa dirumah.
B. Pencegahan indifidu dapat dilakukan dgn cara khusus seperti penggunaan obat oleskulit yg menggandung DEET atau zat aktif EOA lainya.
C. Seranga bercorak hitam putih ini juga senang hidup di benda-benda yg menggantung seperti baju-baju yg ada di belakang pintu kamar. Selain itu nyamuk ini juga menyenangi tempat yg gelap dan pengap.
D. Mengingat penyebaran penyakit ini adalah nyamuk aedes aegeypti maka cara terbaik utk memutuskan rantai penularan adalah dgn memberantas nyamuk tersebut.
E. Malation dipakai dgn cara penggasapan bukan dgn menyemprotkan di dinding, melainkan di benda benda yg menggelantung.
F. Halaman atau kebun di sekitar rumah harus bersih dari benda benda yg memungkinkan menampung air bersih saat musim hujan. Pintu dan jendela rumah sebaiknya dibuka setiap hari mulai pagi sampe sore agar udara segar dan sinar matahari dapat masuk.
G. Kabar baiknya penyakit ini sulit menyerang penderita yg sama. Dengan demikian kecil kemungkinan bagi mereka utk kena lagi.
G. PENANGANAN
Demam chikungnya termasuk, self limiting disease atau penyakit yang sembuh dgn sendirinya. Tdk ada faksin maupun obat khusus utk penyakit ini. Pengobatan yg diberikan hanyalah terapi simtomatis atau menghilangkan gejala penyakitya. Seperti, obat penghilang rasa sakit ayau demam seperti golongan parasetamol, sebaiknya dihindarkan penggunaan obat sejenis asetosal. Antibiotika tdk diperlukan pada kasus ini. Penggunaan antibiotika dengan pertimbangan mencegah infeksi sekunder tdk bermanfat.
Jadi, jangan panic apabila terdapat anggota keluarga yg menderitapenyakit ini, sebab tidak sampai terdapat anggota keluarga yang menderita penyakit ini, sebab tdk sampai menyebabkan kematian. Ngilu pada persendian itu tdk menyebabkan kematian.
Bila menemukan penyakit chikungunya lakukan:
1. Segera laporkan ke puskesmas/ dinas kesehatan setempat.
2. Hindari penderita dari gigitan nyamuk agar tdk menyebar ke orang lain.
3. Anjurkan penderita untuk beristirahat selama fase akut.
4. Pada keadaan KLB perlu dilakukan penyemprotan/penggasapan.
5. Lakukan pemeriksaan jentik di rumah dan sekitar rumah.
Langganan:
Komentar (Atom)
