Kamis, 10 Desember 2009

जमुर kulit

PENDAHULUAN

Mikologi kedokteran adalah ilmu yang mempelajari tentang jamur yang dapat menyebabkan penyakit pada manusia.
Jamur termasuk tumbuh-tumbuhan filum talofita yang tidak mempunyai akar, batang dan daun. Jamur tidak bisa menghisap makanan dari tanah dan tidak mempunyai klorofil sehingga tidak bisa mencerna makanan sendiri oleh karenanya hidup sebagai parasit atau saprofit pada organisme yang lain.
Sampai saat ini dikenal kurang lebih 200.000 spesies jamur, tetapi hanya 50 spesies yang patogen pada manusia, yaitu:
• 20 Spesies menyerang kulit
• 12 Spesies menyerang subkutis
• 18 menyerang alat dalam atau sistemik
Elemen yang terkecil dari jamur disebut hifa, yaitu berupa benang-benang filament yang terdiri dari sel-sel yang mempunyai dinding, protoplasma,inti, dan biasanya mempunyai sekat. Hifa yang tidak mempunyai sekat disebut hifa sunosistik. Benang- benang hifa ini bercabang-cabang dan bila membentuk anyaman disebut miselium.
Hifa berkembang biak atau tumbuh menurut arah panjangnya dengan membentuk spora. Spora adalah suatu alat reproduksi yang bisa dibentuk dalam hifa sendiri atau alat-alat khusus dari jamur sebagai alat reproduksi.
Hifa umumnya mempunyai sekat, tetapi ada kalanya dari satu spora, dapat terbentuk suatu hifa semu dibentuk dari sel ragi. Pada salah satu sisinya membentuk tonjolan yang lebih besar sehingga tampak menyerupai hifa dan tidak mempunyai sekat. Anyaman dari hifa ini disebut miselium semu.

BAB I
INFEKSI KULIT OLEH JAMUR

A. Pengertian kandidiasis
Kandidiasis adalah suatu infeksi akut atau subakut yang disebabkan oleh candida albicans atau kadang-kadang oleh spesies kandida yang lain, yang dapat menyerang berbagai jaringan tubuh ( Siregar,R.S 2005 : 44 ).
Kandidiasis adalah suatu penyakit kulit akut atau subakut,disebabkan jamur intermediet yang menyerang kulit, kuku, selaput lendir, alat-alat dalam (Harahap, Marwali 2000 : 81 ).

B. Etiologi
Penyebab utama kandidiasis adalah candida albicans. Spesies lain seperti candida krusei, Candida stellatoidea, candida tropicalis, candida pseudotropicalis, dan candida parapsilosis, umumnya bersifat apatogen.

C. Faktor Predisposisi
Banyak faktor yang mempermudah terjadinya infeksi kandida pada seseorang. Pada dasarnya factor predisposisi ini di golongkan menjadi 2 kelompok, yaitu
1. Faktor endogen
1) Perubahan fisiologis tubuh, yang terjadi pada:
• Kehamilan, terjadi perubahan di dalam vagina.
• Obesitas, kegemukan menyebabkan banyak keringat, mudah terjadi maresasi kulit, dan memudahkan infestasi kandida.
• Endokrinopati, gangguan konsentrasi gula dalam darah, yang pada kulit akan menyuburkan pertumbuhan kandida.
• Penyakit menahun, seperti tuberkolosis, lupus eritematosus, karsinoma dan leukemia.
• Pengaruh pemberiaan obat-obatan, seperti antibiotik, kortikostreoid, atau sitostatik.
• Pemakaian alat-alat dalam tubuh, seperti gigi palsu, infus, dan kateter.
2) Umur
Orang tua dan bayi lebih mudah terkena infeksi karena status imunologisnya tidak sempurna.
3) Gangguan imunologis
Pada penyakit genetik seperti atopik dermatitis, infeksi kandida mudah terjadi.
2. Faktor eksogen
1) Iklim panas dan kelembaban banyak keringat terutama pada lipatan paha , menyebabkan kulit maresasi dan ini mempermudah invasi kandida.
2) Kebiasan dan pekerjaan yang berhubungaan dengan air mempermudah invasi kandida.
3) Kebersihan dan kontak dengan penderita. Pada penderita yang sudah terkena infeksi ( kandidiais di mulut ) dapat menularkan infeksi pada pasangannya melalui ciuman.

D. Cara Infeksi
Infeksi kandida dapat berlangsung secara endogen dan eksogen atau berkontak langsung. Infeksi endogen lebih sering terjadi karena kandida ini memang bersifat saprofit di dalam taktus digetivus. Bila ada faktor predisposisi, kandida ini dapat lebih mudah mengadakan infeksi di sekitar mukokutan,anus; dapat menyebabkan perianal kandidiasis,atau di sudut mulut menyebabakan perional kandidiasis. Pecandu narkotik dapat menderita kandidiasis karena menggunakan alat suntik yang tidak steril sehingga memperoleh kandidiasis sistemik.
Infeksi eksogen atau berkontak langsung dapat terjadi bila sel-sel ragi menempel pada kulit atau selaput lendir sehingga menimblkan kelainan- kelainan pada kulit tersebut, misalnya vaginitis, balanitis, atau kandidiasis interdigitalis.

E. Klasifikasi dan gambaran klinis
Berbagai jenis kandidiasis mempunyai ciri khas yang bergantung pada alat-alat yang terkena.
Conant ( 1971 ) membagi kandidiasis sebagai berikut:
1. Kandidiasis selaput lendir, misalnya:
1) Kandidiasis oral
2) Perlece
3) Kandidiasis vaginitis dan vulvovaginitis
4) Kandidiasis balanitis dan balanoptisis
5) Kandidiasis mukokutan kronis

2. Kandidiasis kutis
1) Lokalisats: intertigosa dan daerah perianal
2) Generalisata
3) Paronikia dan onikomikosis
4) Kandidiasis kutis granulomatosa
3. kandidiasis sistemik(tidak dibicarakan)
1) Endokarditis
2) Meningitis
3) Pielonefritis
4) Septicemia
4. Reaksi id





F. Anatomi Fisiologis

G. Patofisiologis
Candida albicans, jamur seperti ragi biasanya dapat ditemukan pada selaputlendir, kulit,dalam saluran pencernaan, dan dalam vagina. Candida albicans, dalam keadaan tertentu dapat berubah sifat dari komensal menjadi pathogen dan menyebabkan penyakit-penyakit mucocutaneus lokal.

H. Tanda dan gejala
1. Gejala subyektif
Pada paronychia kronis daerah di sekitar kuku ketika di tekan sakit, dan onychia yang ada hubungan denganya akan merupakan gangguan dari segi kosmetika dan pekerjaan. Candida intertigo,perleche, dan vulvovaginitis sering terasa gatal-gatal dan kadang-kadang menimbulkan rasa tidak enak. Lesi-lesi dari sariawan (thrush) bias terasa sakit dan fungsi makan bisa terganggu.
2. Gejala Obyektif
1) Lesi-lesi paronchia
Menunjukkan lipatan kulit pada pangkal kuku membulat dan menonjol dan erythema & bengkak pad ujung jari (biasanya tanpa pernanahan yang jelas). Sering kuku menjadi berlengkuk-lengkuk dan bernoda warna hijau atau coklat.
2) Lesi lesi intertigo
(Inframamae, ketiak, lipat paha, perianal, antara jara-jari) basah dan merah, kadang-kadamg terjadi macerasi pada lipatan . Tepi yang jelas serta mengelupas, dikelilingi oleh serentetan papula atau pustule kemerahan merupakan sifat khas dari candida.
3) Sariawan (thurs)
Nampak seperti plaque putih melekat tak begitu erat pada selaput lendir mulut atau vagina. Selaput lendir pada dasar lesi berwarna merah dan basah. Lesi-lesi mulai sebagai titik-titik noktah dan bisa meluas sampai sudut-sudut mulut atau kedalam kerongkongan.
4) Perleche
Nampak sebagai daerah erythematosa dengan retak-retak dan fisura yang basah pada sudut mulut.
5) Lesi-lesi vulvovaginalis
Seringkali, tetapi tidak selalu disertai dengan keluarnya discharge vagina. Tingkat erythema dan edema pada vulva akan tergantung pada beratnya gejala-gejala candidiasis vulvae primer tampak serupa dengan infeksi-infeksiintertigo dari candida.

I. Pemeriksaan penunjang
1. Pemeriksaan langsung
kerokan kulit atau swab mukokutan ditetesi dengan KOH 10% atau dapat di warnai dengan pewarnaan gram, dan selanjutnya dilihat di bawah mikroskop yang dapat di lihat adalah sel-sel ragi,blastospora, dan hifa semu.
2. Pemeriksaan biakan
Bahan yang akan di periksa dapat di ambil dari kerokan kulit, kuku, dahak, sekret bronkus, air seni, tinja, usapan mukokutan, usap vagina da darah tergantung dari kelainan yang ada.
3. Pemeriksaan histopatologi
Pada pemeriksaan dengan pengecatan hematoksilin eosin (HE) di dalam sediaan akan dapat terlihat sel0sel reaksi radangberupa sel-sel netrofil, sarang-sarang abses kecil, sel datia yang dikelilingi oleh sel histiosit. Sel-sel ragi tampak berupa blastospora dan dapat juga di temukan hifa semu.
4. Uji kulit
Uji kulit dapat di lakukan dengan bahan yang di buat dari ekstrak biakan kandida. Hasil positif tidak selalu berarti ada infeksi kandida. Jamur yang ada di dalam tubugh berupa saprofit dapat pula memberi hasil yang positif. Penilaian ui kulit harus di hubungkan dengan kelainan yang ada.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar