KELOMPOK :
• Wiwi mustofa
• Unggul arif s.
• Wulan sari
• Siti muhayaroh
TUJUAN
Tahap evaluasi adalah perbandingan hasil – hasil yang diamati dengan kriteria hasil yang dibuat pada tahap perencanaan. Klien keluar dari siklus proses keperawatan apabila kriteria hasil telah dicapai. Klien akan masuk kembali kedalam siklus apabila kriteria hasil belum tercapai.
KLIEN MASUK
PENGKAJIAN
KLIEN MASUK KEMBALI DIAGNOSA
KLIEN KELUAR
EVALUASI PERENCANAAN
IMPLEMENTASI
KOMPONEN TAHAP EVALUASI
1. Pencapaian kriteria hasil
2. Keefektifan tahap – tahap proses keperawatan
3. Revisi atau terminasi rencana asuhan keperawatan
Perencanaan tersebut dapat ditulis dalam berbagai format,termasuk hal – hal berikut :
• Tulisan tangan , rencana asuhan keperawatan yang di buat secara individu.
• Rencana perawatan standar yang disesuaikan dengan kebutuhan pasien.
• Alur klinis , yang merinci rencana perawatan multi disiplin dan mencakup hasil.
• Pedoman praktik yang memandu perawatan pada pasien.
HASIL YANG DIDOKUMENTASIKAN
Hasil dapat diukur pada tingkat dan tujuan yang berbeda. Beberapan hal yang semakin mempersulit pengukuran hasil , antara lain adalah kurangnya hal – hal berikut :
• Persetujuan mengenai rangkaian unsur umum yang digunakan untuk membuat data dasar guna pengukuran hasil.
• Persetujuan tentang penetapan hasil yang tepat.
• Dokumentasi yang sistematis berkaitan dengan pencapaian hasil.
• Komunikasi antar lembaga (msl : antara fasilitas rumah perawatan dan fasilitas rumah perawatan akut).yang tidak memungkinkan dilakukannya pengukuran hasil jangka panjang.
Contoh beberapa tindakan yang dapat dipengaruhi oleh asuhan keperawatan meliputi hal – hal berikut :
• Perioperatif ( komplikasi dalam 2 hari pasca operasi ) defisit sistem saraf pusat , deficit neurologi perifer , infark miokard akut , henti jantung , kematian.
• Obstetric , persalinan seksio sesaria , persalinan pervagina setelah sebelumnya mengalami seksio sesaria.
• Kardiovaskular ,infark miokard akut di unit gawat darurat (UGD) : waktu untuk terapi profilaktik , lama rawat pasca operasi untuk pasien yang mengalami pintas arteri koronaria atau pintas arteri koronaria transluminal perkutan.Kematian setelah CABG,PTCA,atau MI.
• Onkologi , kanker payudara wanita : hasil analisis reseptor estrogen dicatat dalam rekam medis.
• Trauma , tanda – tanda vital di UGD , scor Glasgow coma scale ( GCS ) di UGD waktu pemeriksaan CT scan kepala ,prosedur bedah saraf prosedur ortopedik,dan prosedur abdominal.
• Penggunaan obat , waktu pemberian anti biotic profilaktik untuk kelompok prosedur bedah terpilih , demonstrasi pemantauan sendiri kadar gula darah dan pemberian sendiri hormon insulin, pengukuran kadar obat dalam darah,terutama digoksin,teofilin,fenitoin,dan litium.
• Pengendalian infeksi , infeksi area bedah pada prosedur bedah terpilih,pneumonia pada pasien dengan ventilator , infeksi aliran darah primer pada pasien yang memakai jalur sentral atau jalur umbikulus.
EVALUASI HASIL
Evaluasi dikategorikan sebagai formatif atau sumatif. Evaluasi formatif terjadi secara periodic selama pemberian perawatan , sedangkan evaluasi sumatif terjadi pada akhir aktivitas , seperti di akhir penerimaan , pemulangan atau pemindahan ke tempat lai9n , atau di akhir kerangka waktu tertentu, seperti diakhir sesi penyuluhan.
EVALUASI FORMATIF
Frekuensi perawat mengevaluasi perkembangan pasien tergantung pada factor –factor berikut : kebijakan,standar peraturan,lingkungan palayanan kesehatan,system pencatatan , standar perawatan /pedoman praktik, diagnosis atau masalah keperawatan ,kerangka waktu yang dispesifikan dengan hasil ,dan intervensi keperawatan.
KEBIJAKAN
Kebijakan lembaga palayanan kesehatan mengatur frekuensi perawat dalam mendokumentasikan evaluasi perkembangan pasien . Kebijakan ini dapat ditetapkan dengan berbagai cara .Suatu lembaga dapat mempunyai kebijakan dokumentasi umum yang mengatur frekuensi evaluasi (msl . kebijakan yang mengharuskan rencana keperawatan dievaluasi setiap jam, setiap hari dan setiap minggu).
STANDAR PERATURAN
Standar peraturan lembaga juga dapat digunakan untuk mengatur kerangka waktu evaluasi . Sebagai contoh , joint commission mengharuskan lembaga pelayanan kesehatan agar menetapkan waktu untuk mengkaji ulang pasien dan mengevaluasi kemampuan pasien atau orang tertentu dalam melakukan aktivitas perawatan diri .
SISTEM DAN FORMAT PENCATATAN
System pencatatan yang digunakan oleh fasilitas menetapkan frekuensi perawat harus mendokumentasikan evaluasi. Sebagai contoh : seperti yang didiskusikan pada bab 7, pencatatan masalah intervensi dan evaluasi menganjurkan bahwa hasil harus dievaluasi setiap 8 jam dan diringkas sekali setiap 24 jam.
Format rekam medis juga mengatur frekuensi pencatatan hasil . Sebagai contoh : lavin dan enright(1996) menggambarkan lembar alur yang digunakan di unit rawat inap pasien ketergantungan obat. Lembar bolak-balik terdiri dari 3 kolom dan tiap halaman digunakan perjam dinas. Kolom sebelah kiri mencantumkan gejala-gejala khas yang dialami oleh pasien yang sedang menjalani detoksifikasi obat obatan atau alcohol . Kolom tengah terdapat ruang untuk mencatat intervensi keperawatan yang digunakan untuk mengobati gejala-gejala tersebut .Intervensi standar dicetak ulang pada format tersebut .Kolom paling kanan digunakan untuk mencatat respon atau hasil pasien . Masalah yang masih ada atau informasi tambahan didokumentasikan pada catatan perkembangan.
STANDAR PERAWATAN DAN PEDOMAN PRAKTIK
Standar perawatan dan pedoman praktik menjelaskan frekuensi untuk mengevaluasi hasil.Sebagai contoh , pedoman praktik untuk pengobatan gangguan integritas kulit menganjurkan perawat untuk mengevaluasi dan mendokumentasikan kondisi kulit pasien setiap 8 jam.
MASALAH ATAU DIAGNOSIS KEPERAWATAN
Jenis masalah atau diagnosis keperawatan dapat mempengaruhi frekuensi evaluasi .Pada saat menetapkan diagnosis keperawatan pasien ,seperti yang didiskusikan pada bab 3 pearawat mengidentifikasi masalah yang paling penting.Respon yang sangat mempengaruhi kesejahteraan pasien mendapat prioritas paling tinggi. Kebutuhan fisiologis dasar pasien ,termasuk kebutuhan makanan ,udara ,eliminasi,dan sirkulasi biasanya menjadi kebutuhan yang paling mendesak. Kebutuhan – kebutuhan ini umumnya harus diatasi sebelum berfokus pada kebutuhan psikososial.Frekuensi evaluasi akan bervariasi sesuai dengan perubahan kondisi pasien ,selanjutnya dibuat diagnosis keperawatan baru.
KERANGKA WAKTU
Seperti yang telah didiskusikan pada bab 3 ,kerangka waktu menginformasikan pada perawat kapan saatnya mengevaluasi hasil . Hal-hal yang tercantum dalam kerangka waktu,seperti”dalam 24 jam”.”pada saat pemulangan”,atau”pada saat sesi penyuluhan ketiga,”merupakan panduan yang sangat berguna bagi perawat yang akan mengevaluasi hasil. Kerangka waktu juga di jelaskan pada alur kritis.
INTERVENSI KEPERAWATAN
Intervensi keperawatan dapat menjelaskan seberapa sering setatus pasien harus dipantau atau dilakukan tindakan keperawatan lainya. Misalnya ,intervensi keperawatan mengtauskultasi bunyi napas setiap jam dinas mengindikasikan bahwa rekam medis harus berisi tentang penjelasan bunyi napas. Intervensi yang jelas dan spesifik,mempermudah pendokumentasian dengan menjelaskan tindakan keperawatan yang diharapkan.
EVALUASI SUMATIF
Evaluasi sumatif biasanya dilakukan pada saat pemindahan atau pemulangan pasien. Berpikir kritis dan penilaian klinis harus digunakan jika status pasien tidak sesuai dengan rencana pemulangan.
FORMAT PEMINDAHAN
Standar joint commission (1996) menyatakan rumah sakit harus menyatakan bahwa asuhan keperawatan pasien dan informasi klinis yang tepat harus di tukar pada saat pasien masuk ,dirujuk ,dipindahkan, atau dipulangkan . Satu metode umum untuk memastikan bahwa pertukaran informasi ini terjadi adalah dengan menggunakan format pemindahan dan format pemulangan . Format pemindahan digunakan untuk mengkomunikasikan informasi penting tentang status pasien pada saat pasien dipindahkan di fasilitas yang sama ,antara dua fasilitas atau antara rumah pasien dengan institusi.
FORMAT PEMULANGAN
Kebutuhan pasien harus di evaluasi ketika Ia pulang dari fasilitas perawatan kesehatan. Kebutuhan ini akan mengarahkan pemberian perawatan yang berkelanjutan. Jenis format pemulangan yang berbeda antara lain adalah lembar ringkasan pemulangan dan lembar instruksi pemulangan .
Ringkasan pemulangan . Ringkasan dipakai dipakai di beberapa fasilitas dan digunakan untuk mendokumentasikan penyelesaian proses pemulangan , untuk memastikan bahwa semua langkah yang tepat telah selesai dilakukan.
Lembar instruksi pemulangan . Lembar instruksi pemulangan berisi daftar instruksi-instruksi pemulangan untuk diet,pengobatan ,obat-obatan,aktivitas,dan pemeriksaan tindak lanjut .
CARA PENDOKUMENTASIAN HASIL
Berikut ini adalah beberapa konsep yang biasanya terdapat pada catatan perkembangan , termasuk contoh keterangan evaluative :
• Perkembangan kearah pencapaian hasil
• Respon terhadap obat-obatan
• Respon perubahan aktivitas
• Toleransi terhadap pengobatan atau perubahan posisi
• Kemampuan melakukan aktivitas hidup sehari-hari,terutama yang mempengaruhi rencana pemulangan
• Respon terhadap diet atau perubahan diet
DOKUMENTASI PENYULUHAN PASIEN
Tujuan dari penyuluhan difokuskan pada perbaikan kesehatan melalui peningkatan perilaku sehat dan terlibatnya petugas kesehatan dalam membuat keputusan. Faktor yang terbukti efektif dalam meningkatkan pendokumentasian penyuluhan pasien adalah sebagai berikut :
• Buat kegiatan penyuluhan pasien sebagai bagian dari deskripsi kerja perawat
• Masukan kegiatan penyuluhan penyuluhan pasien sebagai factor yang mempengaruhi peningkatan jasa dan jabatan
• Perkuat kegiatan penyuluhan pasien melalui aktivitas perbaikan mutu
• Masukan kegiatan penyuluhan pasien sebagai bagian dari standar praktik
• Perkuat kegiatan penyuluhan pasien melalui perhatian administrative terhadap pendokumentasian
• Perbaiki format pendokumentasian untuk memberi penekanan pada penyuluhan
• Fokuskan pengembangan dan pendidikan staf pada penyuluhan pasien
Pada akhir penyuluhan tergantung dari informasi yang diberikan perawat harus mampu mendokumentasikan hal-hal berikut :
• Peningkatan pengetahuan pasien dalam pemberian obat ,penggunaan alat-alat medis,interaksi obat dengan makanan ,nutrisi ,sumber-sumber yang ada pada komunitas,dan gejala-gejala yang harus dilaporkan pada pemberi pelayanan kesehatan .
• Peningkatan kemampuan pasien ,keluarga ,atau keduanya untuk melakukan ketrampilan keperawatan diri dan penggunaan teknik-teknik rehabilitasi nuntuk meningkatkan tingkiat fungsi pasien.
• Respon pasien terhadap informasi yang diberikan.
METODE EVALUASI KEBERHASILAN PENYULUHAN PASIEN
• Demonstrasi ulang merupakan cara yang paling bermanfaat dalam mengevaluasi ketrampilan psikomotor
• Tes tertulis merupakan alat obyektif yang digunakan untuk mengukur pengetahuan
• Catatan harian yang dibuat oleh pasien untuk mencatat data-data
• Diskusi yaitu meminta pasien untuk mengingat kembali apa yang telah diajarkan kepadanya ,yang memungkinkan perawat untuk mengoreksi kesalahan konsep yang terjadi pada pasien dan mengevaluasi ingatan pasien.
• Observasi perilaku verbal dan nonverbal ,bermain peran ,dan sikap yang diekspresikan melalui perilaku yang dapat dijadikan petunjuk untuk pembelajaran
• Kuesioner digunakan untuk mengevaluasi perubahan sikap pasien
• Penyelesaian masalah dan simulasi ,yaitu melibatkan pasien dalam situasi teoritis dan memintanya untuk menggambarkan cara menangani situasi tersebut .
PENGKAJIAN ULANG
Pengkajian ulang merupakan pemantauan status pasien yang konstan yang meihat respon pasien terhadap interventasi keperawatan dan kemajuan kearah pencapaian hasil yang diharapkan.Evaluasi data menentukan :
• Ketepatan tindakan keperawatan
• Kebutuhan untuk merevisi intervensi
• Perkembangan masalah atau kebutuhan pasien yang baru
• Kebutuhan untuk rujukan ke sumber-sumber lain
• Kebutuhan untuk menyusun kembali prioritas untuk memenuhi kebutuhan perawatan yang berubah
Hal-hal yang diharapkan dapat dievaluasi dengan :
• Observasi langsung
• Wawancara dengan pasien
• Peninjauan catatan
Langganan:
Posting Komentar (Atom)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar